Wihara Tri Ratna, Tanjungbalai Sumatera Utara sehari pasca kerusuhan. (Foto: Antara)



KBR, Jakarta-
Wihara  Tri Ratna Tanjungbalai, Sumatera Utara belum dapat digunakan pasca dirusak massa Jumat lalu. Salah seorang umat Budha  Leo Lopulisa menyebut kerusakan paling parah Vihara Tri Ratna terletak di bagian dalam ruang baktisala (ruang kebaktian).  Kata Leo yang juga menjadi  Pengawas PC Majelis Budayana Indonesia Tanjungbalai,di tempat itu patung, buku doa dan barang-barang yang berada di altar dan perabotan hancur.

"Police line sudah buka cuma kerusakannya masih ada. Tidak bisa untuk melakukan ibadah belum bisa. (Masih harus diperbaiki bagian mana?) Bagian dalamnya, bagian patungnya termasuk mungkin buku-buku doa hancur, tempat furnitur perabotannya mungkin masih perlu waktu lagi, untuk kebaktian minggu ini belum bisa," papar Leo kepada KBR, Senin (1/8/2016).

Leo menambahkan umat yang selama ini mengunjungi Vihara Tri Ratna untuk beribadah berkisar antara 50 hingga 100an orang perminggunya. Yayasan, kata dia, akan segera merapatkan bagaimana keputusan selanjutnya terkait peribadatan.

Leo memaparkan, dari rekaman CCTV wihara Tri Ratna, diketahui bahwa selain merusak  di dalam vihara, massa jugaq membakar   kendaraan yang berada di luar lokasi. Massa membakar mini bus milik vihara, satu mobil CRV milik ketua yayasan, dan sepeda motor. Pembakaran itu merember membuat dinding dan atap bangunan kini terlihat gosong.

Pasca tragedi itu, Leo menyebut telah ada kunjungan dari Pihak Pemerintah Daerah yang juga disinyalir akan memberikan bantuan atas kerusakan yang terjadi.
 
"Sudah ada yang datang mengunjungi wihara.  Sabtu siang itu tim FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Sumut, baru Minggu paginya Gubernur, Pangdam, dan Kapolda yang meninjau lokasi. Dari Pemko ada disinggung akan membantu perbaikan meski belum secara detail seperti apa," ujarnya.

Leo menilai perjanjian damai  yang dibuat  Sabtu (30/7/2016) cukup bagus untuk langkah pencegahan konflik.

"Mungkin ke depan kita harus lebih sering berkomunikasi lagi, karena selama ini komunikasi berjalan di tempat. Belum dapat menyeluruh, tidak dapat merangkul semua. Mudah-mudahan dengan ada kejadian ini bisa lebih mengenal mendekat lagi. (Berjalan di tempat maksudnya?) Mungkin masih kurang lagi, kurang pendekatannya. Kita belajar dari pengalaman kesalahan apa yang kurang ya inilah koreksi kita ke depan supaya jangan terjadi lagi. Yang selama ini tidak terjangkau, kita coba jangkau," pungkasnya.


Sebelumnya  kata Kapolres Tanjungbalai   Ayep Wahyu Gunawansejumlah vihara dan klenteng kini sudah dibuka kembali pasca perusakan yang terjadi Jumat lalu. Tak hanya dibuka, tempat ibadah tersebut juga dibersihkan oleh polres setempat bersama sejumlah elemen masyarakat.

“Semua sudah dibuka, semua wihara maupun klenteng yang diberi police line sudah dibuka dari kemarin. Sehingga sudah dibersihkan,” ujar Ayep.“Malah kemarin yang pertamakali dibersihkan itu wihara Tri Ratna, bersama-sama kelompok dan elemen masyarakat, tokoh agama, pemuda Islam, aparat TNI, Polri, dan pemkot,” ujarnya.
 
Baca juga:

Selesaikan Kasus Tanjungbalai, Polri Gandeng Kominfo
Pasca Rusuh di Tanjung Balai, Warga Tionghoa Masih Ketakutan
Kerusuhan Tanjung Balai, SETARA: Pemerintah Harus Ungkap Aktor Penggerak
 

Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!