Pasca kerusuhan di Tanjungbalai, Sumatera Utara. (Foto: Antara)



KBR, Tanjungbalai- Kepolisian Tanjungbalai Sumatera Utara menetapkan 17 orang sebagai tersangka kerusuhan. Kapolres Tanjungbalai   Ayep Wahyu Gunawan mengatakan mereka kini telah ditahan.

“Sekarang 17 tersangka, yang terdiri dari delapan terkait kasus penjarahan dan sembilan terkait kasus perusakan. Sudah ditetapkan sebagai tersangka, masih diproses di kantor Polres Tanjungbalai,” jelas Kapolres Tanjungbalai   Ayep Wahyu Gunawan, kepada KBR, Senin (01/08).

Kata Ayep   masyarakat Tanjungbalai mendukung proses penegakkan hukum. Bahkan, sudah ada pertemuan dari beberapa elemen masyarakat membicarakan kasus perusakan tempat ibadah.

“Pada hari Sabtu, kami berkumpul dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda etnis, kemudian dengan FKPD (Forum Koordinasi Pemimpin Daerah) dan Muspida, di situ tercapai kesepakatan pernyataan sikap bahwa semua elemen masyarakat mendukung upaya penegakkan hukum,” ujarnya.

Polres Tanjungbalai juga  telah melindungi pelapor yang juga menjadi sasaran kekerasan masyarakat.  Kata Ayep,  sejumlah vihara dan klenteng kini sudah dibuka kembali pasca perusakan yang terjadi Jumat lalu. Tak hanya dibuka, tempat ibadah tersebut juga dibersihkan oleh polres setempat bersama sejumlah elemen masyarakat.

“Semua sudah dibuka, semua wihara maupun klenteng yang diberi police line sudah dibuka dari kemarin. Sehingga sudah dibersihkan,” ujar Ayep.“Malah kemarin yang pertamakali dibersihkan itu wihara Tri Ratna, bersama-sama kelompok dan elemen masyarakat, tokoh agama, pemuda Islam, aparat TNI, Polri, dan pemkot,” tambahnya.

Baca juga:

Selesaikan Kasus Tanjungbalai, Polri Gandeng Kominfo
Pasca Rusuh di Tanjung Balai, Warga Tionghoa Masih Ketakutan
Kerusuhan Tanjung Balai, SETARA: Pemerintah Harus Ungkap Aktor Penggerak


Penyebab Kerusuhan


Kapolres Tanjung Balai Ayep Wahyu Gunawan mengatakan, kerusuhan bermula dari seorang warga   berinisial M yang meminta jemaah masjid mengecilkan pengeras suara. Kata dia, rumah warga tersebut berhadapan dengan masjid sehingga merasa terganggu.

"Sebetulnya dia hanya menyampaikan karena dia rumahnya berdepan-depanan dengan masjid," kata Ayep ketika dihubungi KBR, Sabtu (30/7/2016).

Protes tersebut berbuntut panjang dan sempat terjadi perselisihan antara jemaah masjid dan M.

Kondisi makin memuncak dengan tersebarnya informasi provokatif melalui pesan berantai dan media sosial. Hal ini menyulut kemarahan dari umat Islam di Tanjung Balai. Mereka membakar dan merusak tempat ibadah umat Budha. Sejauh ini, kata Ayep, ada tiga vihara dan sembilan klenteng yang menjadi sasaran perusakan. 


Editor: Rony Sitanggang 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!