Kenaikan Harga Rokok, Ini Waktu dan Besarannya Kata Dirjen Bea Cukai

"Ini untuk memberikan kesempatan kepada semua orang semua pihak untuk menyesuaikan. Kalau tahun kemarin kan kami menaikkan 11 koma sekian persen."

Senin, 22 Agus 2016 18:46 WIB

Ilustrasi: Buruh rokok di Tegal Jawa Tengah (Foto: Antara)

KBR, Jakarta-   Kementerian Keuangan memastikan aturan tarif cukai rokok yang baru untuk 2017 akan rampung akhir September 2016. Direktur Jenderal Bea dan Cukai   Heru Pambudi  mengatakan, tiga bulan yang tersisa tahun ini akan dimanfaatkan untuk sosialisasi, menyiapkan pita cukai dan administrasinya, serta produsen menyiapkan harga jual yang baru.

"Kalau kita lihat historisnya, rokok memang secara reguler naik. Kami kalaupun 2017 akan naik, kami akan umumkan tiga bulan di depan. Ini untuk memberikan kesempatan kepada semua orang semua pihak untuk menyesuaikan. Kalau tahun kemarin kan kami menaikkan 11 koma sekian persen. Sekian persen yang tahun ini belum kami putuskan. Jadi saat ini kami sedang bicara dengan kementerian, lembaga dan asosiasi," kata Heru di kantor Kementerian Keuangan, Senin (22/08/16).

Heru mengatakan, pemerintah akan sangat hati-hati menentukan tarif cukai yang baru. Kata Heru, saat ini pemerintah masih mengumpulkan pendapat dari berbagai kementerian/lembaga terkait seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan, serta organisasi pemerhati kesehatan, dan asosiasi pabrik rokok. Apalagi, kata Heru, bakal ada sekira 6 juta orang yang hidup di lingkungan industri rokok, yang bakal terdampak.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyatakan rencananya menaikkan tarif cukai rokok pada 2017. Kenaikan tarif diperkirakan mencapai 10 persen. Nilai itu diperoleh dari asumsi pertumbuhan ekonomi 2017 sebesar 5,3 persen dan inflasi sebesar 4 persen. Alasannya, pemerintah ingin mengendalikan konsumsi dan peredaran rokok, disamping mengharapkan pendapatan dari pengenaan tarifnya.

Sebelumnya, Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Manusia Universitas Indonesia (PKEKKFKM UI) merilis hasil studi yang menyebutkan 46 persen pecandu rokok akan berhenti mengonsumsi rokok apabila harga dinaikkan hingga Rp 50 ribu per bungkus. Dari penelitian itu, kemudian muncul isu kenaikan harga rokok hingga di level Rp 50 ribu per bungkus. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.