Upacara kemerdekaan para korban diskriminasi berkeyakinan. (Foto: KBR/Rafik M.)

KBR, Bogor- Meski hidup dalam diskriminasi, suasana kemerdekaan masih dirasakan oleh sejumlah korban diskriminasi berkeyakinan. Jemaat GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, Sunda Wiwitan, Bahai, Syiah, Ahmadiyah, Gafatar, Penghayat Dayak Losarang, berkumpul di Kampus Mubarak, Kemang, Kabupaten Bogor. Mereka hormat ke bendera yang sama, dan membacakan teks pancasila dan proklamasi yang sama. Yang membedakan hanyalah hak-hak mereka sebagai warga negara, yang masih terkurung dalam diskriminasi.

Pagi itu upacara dilakukan di kampus yang pernah diserang oleh kelompok intoleran beberapa waktu sebelumnya. Meski dikurung dan ditutupi oleh seng, pelaksanaan upacara tetap berlangsung khidmat. Dari sekian banyak korban diskriminasi berkeyakinan, Naskim Dayak ikut dalam upacara lintas iman ini. Naskim adalam salah seorang penghayat kepercayaan dayak losarang.

Berada di barian depan, Naskim yang hanya menggunakan celana pendek dengan aksesoris khas dayak yang mencolok terlihat bersemangat mengikuti upacara. Bahkan ia terlihat lantang dalam mengucapkan pancasila dan ikut menyanyikan Indonesia Raya.

"Meski saya berbeda, saya tetap Indonesia. Saya masih menginginkan tidak adanya diskriminasi bagi penganut agama kepercayaan ataupun, di kelompok kaum adat," kata Naskim penghayat dayak losarang saat berbincang dengan KBR usai upacara, Rabu (17/08).

Usai upacara, terlihat kegembiraan dari wajah peserta upacara. Bahkan pekikan 'Merdeka' pun terdengar, sambil mereka berpelukan usai upacara. Kegembiraan di balik kesedihan ini terpancar, meski mereka kelompok minoritas yang terpinggirkan.

Keceriaan masih berlanjut,   para korban diskriminasi berkeyakinan ini, saling bahu membahu dalam perlombaan yang diadakan panitia. Terlebih ketika terlihat keceriaan anak kecil dari Gafatar dan Ahmadiyah, keceriaan yang polos yang membuat mereka sesaat lupa akan apa yang telah menimpanya.

Juru Bicara JAI, Yendra Budiman mengatakan, kegiatan lintas iman ini sengaja dilakukan, agar mereka tetap bisa merasakan hakekat kemerdekaan yang sebenarnya belum didapat.

"Sengaja meski kita berkumpul, kita tidak melakukan pernyataan sikap ataupun deklarasi apapun. Melalui kegiatan ini pun sebenarnya kami membawa pesan, jika kemerdekaan itu harus terasa dan nyata," katanya di sela kegiatan.

Kegiatan ini berlangsung dua hari, dan puncaknya pada pelaksanaan upacara hari ini. Malam sebelumnya, mereka juga melakukan kegiatan renungan dan doa bersama untuk mengenang arwah pahlawan.

Editor: Rony Sitanggang
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!