Petugas sedang memeriksa barang bukti vaksin palsu. (Foto: Antara)



KBR, Jakarta - Kementerian Kesehatan mengklaim, setiap pekan rutin mengawasi kinerja Satgas Vaksin Palsu. Di samping itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Untung Suseno mengatakan, vaksinasi ulang pun terus dilakukan baik di rumah sakit maupun puskesmas. Kata dia, hingga kini satgas sudah melakukan lebih dari seribu imunisasi ulang.

Ia memastikan, pemeriksaan kesehatan dilakukan kepada setiap anak yang diduga terpapar vaksin palsu.

"Semua puskesmas, posko untuk ini (posko pengaduan vaksin palsu-red), di Jakarta semua adalah posko untuk ini. Jadi silakan aja nanya di sana, saya duga anak saya nggak ini, oke, terus dilihat di mana dianya, verifikasi kan memang begitu kan, habis itu diperiksa anaknya. Untuk vaksin ulang kita tetap laksanakan, sekarang udah 1192 atau berapa lupa, yang sudah diimunisasi," kata Untung ketika dihubungi KBR, Sabtu (13/8/2016).

Baca juga:

Sekjen Kementerian Kesehatan Untung Suseno menambahkan, tim satgas juga menemukan vaksin palsu di daerah Banten. Namun dia memastikan korban yang terverifikasi segera mendapat imunisasi ulang.

"Kan polisi dan BPOM kasih tahu, nih yang palsu, selama itu ada, langsung dilakukan koordinasi dengan dinas, langsung diimunisasi ulang," ujarnya.

Sementara, untuk wilayah Sumatera, dugaan penyebaran vaksin palsu, hingga saat ini belum terverifikasi. Menurut Untung, satgas masih terus melakukan penyelidikan.

Baca juga: Lima Wilayah Penyebaran Vaksin 

"Sumatera itu belum, saya belum berani bilang iya atau enggak, karena masih diselidiki," tutur dia.

Untung Suseno pun mengakui, satgas berhati-hati memberikan informasi kepada publik. Ini lantaran, ada aspek hukum yang tengah diproses oleh Kepolisian.

"Kami mau buka, tapi tanya polisi dong, kalau polisinya oke, ya kita buka aja," ujar dia.




Editor: Nurika Manan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!