Gelar Upacara di Perbatasan Sengketa dengan Malaysia, Pangdam: Bukan Perang Urat Syaraf

“Sama sekali tidak. Perkuatan kalau yang sifatnya gelar sama sekali tidak, tapi lebih memilih pemilihan tempat yang menurut kita perlu mendapatkan sentuhan."

Rabu, 17 Agus 2016 22:00 WIB

Pangdam Tanjungpura Andhika Perkasa memimpin upacara peringatan hari kemerdekaan di perbatasan dengan Malaysia, Rabu (17/08). (Foto: KBR/Edho S.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Sambas- Kodam Tanjungpura  menggelar peringatan  Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71 di perbatasan Malaysia. Upacara yang digelar di daerah sengketa  Dusun Camar Bulan, Desa Temajuk, Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat memberikan pesan kekuatan Negara.

Panglima Kodam 12 Tanjungpura Andhika Perkasa selepas memimpin upacara  mengatakan, sebanyak 17.845 bendera merah putih dikibarkan di sepanjang 784 Kilometer perbatasan  Malaysia. Pemasangan bendera ini menurutnya sebagai tanda Indonesia bisa melakukan pengibaran bendera sebanyak itu.

Bekas Komandan Paspampres ini menampik jika ini disebut perang urat syaraf dengan Negara tetangga, kendati puncak acara memang dilakukan di kawasan  bersengketa dengan Malaysia seluas 1.449 Hektar.

“Sama sekali tidak. Perkuatan kalau yang sifatnya gelar sama sekali tidak, tapi lebih memilih pemilihan tempat yang menurut kita perlu mendapatkan sentuhan. Dan itu semua memang kreatifitas dari Komandan Korem yang menelusuri bukan hanya merayakan hari ini. Selama 4 hari mereka start dari Badau pakai motor beserta relawan dari seluruh Indonesia, ada 17. Sebetulnya ribuan, namun sifatnya estafet. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Ya itulah kondisi kita, namun kita bangga karena pasti akan membangun,” kata Andhika di Camar Bulan, Rabu (17/08/16) siang.

Kata Andhika, dipilihnya dusun Camar Bulan ini sebagai bentuk perhatian TNI melihat ketimpangan pembangunan infrastruktur, baik jalan, jembatan dan sektor komunikasi serta transportasi di kawasan perbatasan yang masih tertinggal. Kata dia,  kegiatan ini murni kreatifitas jajarannya yang ingin menunjukkan jika Indonesia bisa melaksanakan pemasangan bendera sebanyak itu.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.