Foto-foto menunjukkan Patung Yesus yang ambruk dan Patung Bunda Maria dibuang di sungai. Perusakan di Gereja Katolik Santo Yusuf Pekerja, Klaten, Jateng. (Foto: SEJUK)

KBR, Jakarta - Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) mendesak kepolisian segera mengusut dan mengungkap pelaku perusakan simbol-simbol agama di dua gereja di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Dua gereja dijadikan sasaran kekerasan pada Selasa (9/8/2016), yaitu Gereja Katolik Santo Yusuf Pekerja di Klaten, Jawa Tengah dan Goa Maria Sendang Sriningsih di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Baca: Dalam Sehari, Dua Gereja di Jateng-DIY Diserang, Patung Maria Dibuang ke Sungai

Koordinator ANBTI Agnes Dwi Rusjiati khawatir apabila polisi tak menindak tegas pelaku perusakan itu, peristiwa ini akan memicu rentetan perusakan di tempat lain. Sebab menurutnya, wilayah perbatasan menjadi kawasan yang rawan disulut konflik.

"Karena kekhawatiran kami kemudian wilayah perbatasan yang sudah kami coba bangun dengan baik komunikasi, mediasi dan lainnya hingga proses gugatan ini tidak dilanjutkan kan sudah baik. Jangan sampai ini merusak hubungan baik yang sudah dibangun," ungkap Agnes kepada KBR, Rabu (10/8/2016).

Meski begitu, ia belum bisa memastikan apakah kelompok penyerang saat ini sama seperti kelompok intoleran yang mengintimidasi umat di sekitar Gua Maria Giri Wening pada Juni lalu.

Baca: IMB Gua Maria Giri Wening Digugat, Pengurusnya Juga Diintimidasi

"Kita juga tidak tahu siapa yang melakukan. Saya tidak bisa mengatakan ini bahwa ini berkaitan atau tidak dengan gugatan (IMB) di pengadilan. Kami serahkan ini semua ke polisi," kata Agnes.

Meski begitu, Agnes mengatakan, salah satu lokasi patung salib yang dirusak memiliki jalur yang sama dengan Gua Maria Giri Wening.

"Jadi kalau mau ke Giriwening kan melewati Sriningsih (yang sekarang dirusak). Jadi aksesnya sama," lanjut Agnes.

Pendatang Hilir Mudik di Sekitar Lokasi

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga sekitar, kata Agnes, beberapa hari sebelum perusakan warga menjumpai sejumlah orang tak dikenal hilir-mudik di sekitar lokasi kejadian. Orang-orang ini bukan merupakan warga sekitar.

"Tapi kami juga tidak bisa menyimpulkan bahwa orang-orang ini yang merusak. Ini informasi dari umat di sekitar situ," jelasnya.

Dua kejadian perusakan oleh orang tak dikenal tersebut masing-masing telah dilaporkan ke Polsek Jogonalan dan Polsek Prambanan.

Lebih lanjut, Koordinator ANBTI sekaligus pendamping kasus ini, Agnes Dwi Rusjiati juga meminta kepolisian setempat berkoordinasi dengan Polda Yogyakarta untuk mencegah kejadian serupa dan memberikan perhatian khusus terhadap kasus ini. Warga menyertakan bukti foto perusakan dan sejumlah saksi mata.

Agnes pun meminta warga untuk tak terprovokasi dengan perusakan ini sehingga mengambil tindakan reaktif yang malah merusak hubungan antar-agama. Warga sebaiknya menunggu sembari mengawal proses hukum kepolisian.

"Yang terpenting dari peristiwa ini adalah ada perusakan simbol agama. Bahwa ini ada persoalan hukum yang diserahkan ke polisi untuk ditangani, jangan sampai kita mengambil aksi sendiri yang justru menimbulkan dampak yang tak baik hubungan antar-agama," pungkasnya.

Editor: Agus Luqman
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!