Terpidana mati kasus narkoba Freddy Budiman. (Foto: KBR/M. Ridlo)



KBR, Jakarta- Tim Pencari Fakta Gabungan bentukan Polri akan meminta rekaman kamera pengawas CCTV kedatangan Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak kekerasan tersebut, Haris Azhar, di Nusakambangan kepada Kementerian Hukum dan HAM. Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Mabes Polri, Dwi Priyatno mengatakan, itu dilakukan untuk mencari fakta pertemuan gembong narkoba Freddy Budiman dengan Haris.

"Tentunya kita bisa mintakan, nanti kita kroscek apa kaitannya dengan kedatangannya. Katakanlah fakta Pak Haris memang datang ke sana, kemudian berbicara," kata Dwi di Mabes Polri, Jumat (12/06/17).

Namun menurut Dwi, bukti adanya pertemuan tidak cukup. Karena hal itu tidak membuktikan kebenaran apa yang disampaikan Freddy Budiman kepada Haris.

"Tapi isinya kan kita tidak tahu apa yang disampaikan. Oleh karena itu  dengan adanya informasi itu tentu kita akan tanyakan, kita akan kroscek, kita akan minta bantuan Kemenkumham," jelas Dwi.

Rencananya tim pencari fakta akan mengunjungi penjara Nusa Kambangan pada Senin (15/18/16). Dwi mengatakan, mereka akan mengumpulkan fakta dan meminta keterangan terkait pertemuan Freddy Budiman dengan Haris.

Sebelumnya, Haris Azhar mengaku mendapatkan kesaksian dari Freddy Budiman terkait adanya keterlibatan oknum pejabat Badan Narkotika Nasional, Polri, dan Bea Cukai dalam peredaran narkoba yang dilakukannya.

Kesaksian Freddy, menurut Haris, disampaikan saat memberikan pendidikan HAM kepada masyarakat pada masa kampanye Pilpres 2014. Menurut Haris, Freddy bercerita bahwa ia hanyalah sebagai operator penyelundupan narkoba skala besar.

Saat hendak mengimpor narkoba, Freddy menghubungi berbagai pihak untuk mengatur kedatangan narkoba dari Cina. Oknum Polisi, BNN, dan Bea Cukai yang Freddy hubungi menitip harga untuk mengambil keuntungan.

Freddy bercerita kepada Haris, harga narkoba yang dibeli dari Cina seharga Rp 5.000. Sehingga, ia tidak menolak jika ada yang menitipkan harga atau mengambil keuntungan penjualan Freddy. Oknum aparat disebut meminta keuntungan kepada Freddy dari Rp 10.000 hingga Rp 30.000 per butir.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!