Koordinator Kontras Haris Azhar berorasi saat sejumlah aktivis melakukan aksi solidaritas #MelawanGelap di depan Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (5/8). Aksi tersebut merupakan bentuk dukungan kepada Haris yang telah mengungkap testimoni bandar narkoba Fred



KBR, Jakarta - Bekas Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, Liberty Sitinjak mengaku telah mengklarifikasi pengakuan terpidana mati kasus narkoba, Freddy Budiman kepada Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kementerian Hukum dan HAM.

Pengakuan Freddy itu terkait adanya keterlibatan pejabat BNN, Polri, dan Bea Cukai dalam peredaran narkoba yang dilakukannya. Namun begitu, pasca diperiksa BNN selama hampir dua jam, ia enggan menjelaskan hasil klarifikasi itu kepada wartawan.

"Saya perlu jelaskan, sesama institusi pemerintahan, selama ini kerja sama kita baik. Kalau ada yang perlu diklarifikasi, makanya kita bertemu. Kalau minta apa hasil pertemuannya, tanya Pak Menteri (Hukum dan HAM)," kilah Sitinjak di kantor BNN, Senin (8/8/2016).

Sementara itu, selain Liberty Sitinjak, Badan Narkotika Nasional (BNN) tengah memeriksa sejumlah saksi lain. Kepala BNN, Budi Waseso mengatakan, saksi-saksi itu juga akan diminta kesaksiannya mengenai pengakuan Freddy Budiman pada Koordinator Kontras, Haris Azhar. Ia juga menjamin bakal bertindak tegas pada oknum BNN yang terbukti terlibat aksi Freddy.

"Pasti kita tindak tegas terhadap oknum-oknum yang melakukan pelanggaran. Itu (pelanggaran-red) kan ada sanksi hukumnya, apalagi dia aparat. Hukumannya  lebih (berat-red) dari orang biasa," ancam Budi.

Budi mengaku, tim pemeriksa internal BNN yang dipimpin oleh Inspektur Utama BNN, Rum Murkal sudah memintai keterangan dari anggota internal BNN, terutama yang menangani urusan administrasi. Semisal, anggota yang menangani eskpedisi surat, antara lain surat keluar, surat tugas, dan surat perintah.

Sebelumnya, Indonesia Police Watch mendesak BNN melakukan pembuktian terbalik dari tulisan Haris Azhar soal kesaksian Freddy Budiman terkait pelibatan personel mereka dalam bisnis narkoba. Caranya, dengan menelusuri oknum yang ditulis Haris, datang ke Nusakambangan untuk mengutak-atik kamera pengawas atau CCTV yang dipasang untuk mengawasi ruang sel Freddy. Dalam pengakuannya, Feddy mengatakan ada oknum BNN yang menginginkan agar CCTV itu, dicopot.

Sedangkan Koordinator Kontras, Haris Azhar meminta ada tim independen yang terintegrasi untuk menindaklanjuti pengakuan almarhum gembong narkoba Freddy Budiman. Menurutnya, tanpa tim tersebut, maka pemeriksaan BNN, TNI dan polisi hanya akan menjadi evaluasi internal.

"Kalau hanya BNN, dia nggak mungkin memeriksa (nama-nama) yang (dari) Polisi. Dia (BNN) nggak mungkin memeriksa (nama-nama) yang (dari) TNI. Begitu juga sebaliknya semua. Jad, dia (tiap institusi) hanya bersifat ke dalam, pembenahan internal ke dalam. Dia (institusi-institusi tersebut) tidak bisa membongkar soal 'guritanya'. Besaran mafia itu bagaimana, dia nggak bisa menggambarkan nanti. Lebih baik, ada tim yang terintegerasi dan (langsung berada) di bawah (komando) presiden, jadi kuat. Jadi ini menguji juga komitmen presiden. Katanya mau meberantas narkoba?," ujar Haris (7/8/2016).

Menurutnya, tim independen nantinya dapat menindaklanjuti informasi-informasi dari Liberty Sitinjak terkait Freddy Budiman.

"Mudah-mudahan bisa ditindaklanjuti informasinya (Fredy Budiman). Kasihan kan, orang sudah datang jauh-jauh, (dan) menjadi saksi dari berbagai hal. Banyak info yang bisa ditindaklanjuti dari Pak Sitinjak," tutup Haris.

Sementara itu, Kepolisian Indonesia mengaku telah melibatkan unsur masyarakat dalam menindaklanjuti pengakuan almarhum terpidana mati kasus narkoba Freddy Budiman kepada Koordinator LSM HAM Kontras Haris Azhar. Kata Juru Bicara Polri, Boy Rafli Amar tim ini akan melakukan langkah-langkah investigasi seperti melacak siapa-saja yang pernah terkait dengan Freddy Budiman.

Boy menambahkan, perwakilan masyarakat yang dilibatkan di antaranya Ketua Setara Institute Hendardi dan pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Effendi Gazali. Nantinya, menurut Boy, output yang ditargetkan oleh tim ini adalah membuktikan perkataan Freddy Budiman soal keterlibatan oknum kepolisian dalam bisnis narkoba yang didalanginya.




Editor: Quinawaty 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!