Koordinator Kontras Hariz Azhar (kiri), Wakil Koordinator Kontras Puri Kencana Putri (kanan), Juru Bicara BNN Slamet Pribadi (kedua kiri), dan Juru Bicara Mabes Polri Rikwanto (kedua kanan) berfoto sembari memegang kaos bertuliskan #sayapercayaKontras ket



KBR, Jakarta - Puluhan warga sipil berkumpul di Taman Demokrasi, kawasan Monas, Jakarta menyuarakan dukungan untuk gerakan Indonesia Bebas Narkoba. Aksi bertajuk #KopdarSehat "Menyehatkan Diri, Menyehatkan Institusi" ini untuk mendukung langkah penegak hukum mengungkap beking jaringan narkoba.

Ini menyusul pengungkapan testimoni gembong Narkoba, Freddy Budiman kepada Koordinator Kontras Haris Azhar terkait dugaan keterlibatan pejabat di tiga lembaga yakni Badan Narkotika Nasional (BNN), Polri dan TNI.

Dalam aksi itu, Wakil Koordinator Kontras Puri Kencana Putri menyerahkan 60.000 petisi dari masyarakat ke Badan Narkotika Nasional (BNN) dan kepolisian. Isinya, meminta penegak hukum untuk serius mengusut tuntas keterlibatan aparat keamanan dalam peredaran narkotika di tanah air.

"Agar dalam agenda investigasi baik internal maupun lintas lembaga akan saling bersinergi. Karena temuannya akan sangat  produktif dengan temuan-temuan yang coba dikawal Kontras dan Koalisi Masyarakat Sipil Berantas Narkoba terhadap kecemasan publik bahwa ada indikasi aparat terlibat dalam bisnis kotor ini. Kami ingin sehat jiwa raga dan sehat juga institusinya," kata Puri di kawasan Monas, Jakarta, Sabtu (20/8/2016).

Beberapa aktivis dan perwakilan sejumlah lembaga negara hadir di tengah aksi. Di antaranya Juru Bicara BNN Slamet Pribadi, Koordinator Kontras Haris Azhar, Juru bicara Mabes Polri Rikhwanto, perwakilan Pemuda Muhammadiyah, dan keluarga korban penghilangan paksa, Sumarsih.

Baca juga:

Sementara itu, Juru bicara BNN Slamet Pribadi mengapresiasi petisi untuk lembaganya tersebut. Kata dia, puluhan ribu petisi itu menjadi dorongan bagi lembaganya agar bekerja lebih baik.

"Karena ada undangan ya kita hadir, inikan teman-teman semua. Kontras memberikan informasi dan Budi Waseso menanggapi informasi itu, meskipun belum konkret petugas tidak boleh prasangka buruk,kita harus kelola," ujar Slamet.

Sebelumnya, Koordinator Kontras mengungkap pengakuan terpidana mati narkotika Freddy Budiman 2014 silam ke media sosial. Dalam testimoni itu, kata Haris, Freddy menyebut keterlibatan sejumlah petinggi di BNN, kepolisian dan TNI dalam memuluskan bisnis narkobanya di Indonesia. Pengungkapan ini berujung pelaporan Haris Azhar oleh tiga lembaga tersebut atas pelanggaran Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).


2 Bulan Lagi Penyelidikan BNN Rampung

Badan Narkotika Nasional (BNN) bakal mengumumkan hasil penyelidikan dugaan keterlibatan pejabat di tubuh BNN, Polri dan TNI dalam jaringan narkotika Freddy Budiman pada Oktober mendatang. Juru bicara BNN Slamet Pribadi mengatakan, lembaganya kini masih mengumpulkan informasi tambahan untuk membuktikan dugaan tersebut.

Ia mengatakan, pihaknya telah mengumpulkan informasi dari tim penyidik BNN yang pernah menangani Freddy, hingga melakukan pemeriksaan di Lapas Nusakambangan.

"Tim internal sudah dibentuk, sudah ketemu dengan Haris Azhar, kemudian melakukan pemeriksaan kepada para pihak yang ditunjuk. Datang ke Nusakambangan, kita sudah datang. Kita tunggu hasilnya, mohon bersabar. Mungkin nanti bersama-sama dengan TNI dan Polri. Kira-kira sebulan sampai dua bulan ke depan," jelas Juru bicara BNN Slamet Pribadi di Kawasan Monas, Jakarta, Sabtu (20/8/2016).

Baca juga:

Dia pun menambahkan, tim internal BNN juga sudah memintai keterangan petugas BNN yang disebut-sebut pernah mendatangi Freddy di Nusakambangan.

Sebelumnya, Koordinator Kontras Haris Azhar mengatakan, gembong Narkoba Freddy Budiman pernah menyebut keterlibatan petugas BNN dalam bisnis narkotika di Indonesia. Pengakuan ini didengarnya pada 2014 saat mengunjungi Freddy di Lapas Nusakambangan. Dalam pertemuan itu, muncul pula informasi soal orang yang mengaku sebagai petugas BNN dan mempertanyakan perihal pemasangan kamera pengawas atau CCTV di ruangan Freddy kepada Kalapas Nusakambangan saat itu, Liberty Sitinjak.





Editor: Nurika Manan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!