Ilustrasi (sumber: BNN)



KBR, Jakarta- Koalisi Berantas Mafia Narkoba meminta SOP (Standard Operating Procedure) controlled delivery (penyerahan yang diawasi) terhadap narkoba dibuka ke publik. Hal ini dinyatakan menanggapi controlled delivery narkoba Freddy Budiman pada 2012 yang hanya menjerat aktor lapangan.

Direktur LBH Masyarakat Ricky Gunawan menyatakan tata cara operasi ini tidaklah transparan. Sehingga   tidak bisa dinilai apakah sebuah operasi dinyatakan berhasil atau tidak.

Kata dia, SOP juga diperlukan agar publik bisa mengawasi mekanisme itu. Hal ini guna mencegah   penegak hukum menyelewengkan.

"Controlled delivery itu metode yang penting diketahui publik, supaya kita betul-betul tahu siapa saja yang terlibat di dalam rantai peredaran gelap narkoba," ungkapnya dalam konferensi pers di kantor Kontras, Jumat (12/8/2016) sore.

"Dan, apakah aparat yang akan membongkar itu serius membongkar atau justru mereka bagian dari jaringan gelap narkoba?" tambahnya lagi.

Controlled delivery baru diatur dalam UU 35/2009 tentang Narkotika tapi tidak ada aturan di bawahnya yang lebih detail.

Ricky menambahkan, controlled delivery seharusnya mampu menguak rantai peredaran gelap narkotika. Namun, controlled delivery terhadap narkoba Freddy Budiman pada 2012 gagal melakukan itu. Sebab, petugas hanya mencegat dan menangkap petugas lapangan.

"Transporter, receiver, manager dalam operasi Freddy belum terungkap secara gamblang," jelasnya.

Pada Mei 2012, petugas BNN melakukan controlled delivery terhadap kontainer berisi 1,4 juta pil narkoba Freddy Budiman. Controlled delivery adalah membiarkan barang ilegal itu melewati pengecekan petugas agar diketahui siapa penerimanya.

Barang itu kemudian keluar dari Pelabuhan Tanjung Priok dan dibawa orang suruhan Freddy Budiman ke Cengkareng. Namun, sebelum sampai tujuan, kontainer itu sudah dicegat petugas BNN dan orang yang membawanya ditangkap. 


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!