Koordinator Kontras Haris Azhar. (Foto: FB)



KBR, Jakarta- Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso mengklaim Presiden Joko Widodo tidak mempermasalahkan pelaporan Koordinator Kontras Haris Azhar ke Bareskrim. Ini dikatakan Buwas seusai bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana sore ini.

Buwas mengatakan telah menjelaskan alasan pelaporan tersebut. Kata dia, Presiden memintanya menindaklanjuti informasi dari Haris hingga tuntas. Presiden memandang informasi tersebut merupakan masukan yang berharga.

"Nggak lah (tidak mempermasalahkan-red), Presiden malah ingin betul-betul ditindaklanjuti oleh internal BNN, Polri dan TNI, anggap ini suatu informasi yang harus didalami dan dibuktikan. Harus bisa dibuktikan, makanya untuk pembuktian ini, harus melalui pemeriksaan, orang diperiksa harus ada dasarnya, salah satunya adalah laporan," kata Buwas di kompleks Istana, Kamis (4/8/2016).

"Saya tadi menyampaikan juga ke Presiden, bukan berarti kita melaporkan itu pasti kita ingin menjadikan Haris tersangka, dengan maksud supaya legalitasnya jelas. Karena polri kala memanggil seseorang, dasarnya adalah laporan polisi, atau laporan pengaduan," lanjut Buwas.

Budi Waseso menambahkan, belum ada perintah Presiden untuk membentuk tim independen guna menelusuri keterangan Haris. Menurut Buwas, tim belum diperlukan lantaran masih menunggu perkembangan selanjutnya

"Intinya belum perlu ya, karena kan kita sementara bagaimana nanti pembuktian-pembuktian perkembangannya nanti," tuturnya

Namun, bekas Kabareskrim Polri ini mengaku tidak masalah apabila tim akhirnya dibentuk

"Bilamana ini ada kesulitan, mungkin supaya fair ya kita perlu ada tim independen. Tapi terserah, bagi saya sendiri sih bebas, kan kita ini bukan menutupi, kita ingin terbuka juga, ingin segera terbukti," terang Buwas.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!