Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (kedua kiri) bersama Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf (kiri) berdialog dengan keluarga korban calon jemaah haji yang berangkat lewat Filipina di Balai Desa Bulu Kandang, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (25/8). (F



KBR, Jakarta- Penyidik Bareskrim Polri telah meminta keterangan dari tiga orang koordinator calon haji yang berada di Filipina. Juru bicara Polri, Boy Rafli Amar mengatakan, para koordinator ini termasuk dalam rombongan 177 WNI yang ditangkap Imigrasi Filipina.

"Jemaah haji yang saat ini sudah diambil keterangannya oleh tim penyidik kita adalah unsur koordinator-koordinator. Jadi ada koordinator dari perwakilan-perwakilan travel agent yang melakukan pengurusan," kata Boy di Mabes Polri, Jumat (26/08/16).

Boy menjelaskan,   baru memeriksa tiga koordinator dari delapan biro perjalanan haji yang diduga memberangkatkan WNI dari Indonesia. Namun kepolisian belum bisa memastikan apakah koordinator ini terlibat atau sebagai korban juga.

"Ketiga orang ini bertanggung jawab terhadap 138 WNI yang sudah berada di KBRI Manila," kata Boy.

Penyidik Bareskrim Polri yang berada di Manila sedang berupaya mengambil keterangan dari koordinator biro perjalanan haji lainnya. Boy mengatakan, sementara ada delapan biro perjalanan haji yang diduga melakukan penipuan terhadap calon haji yang diberangkatkan melalui Filipina.

"Pemeriksaan terus dilakukan namun hasilnya belum bisa saya sampaikan," ujarnya.

Saat ini sudah ada 138 WNI yang ditempatkan di penampungan sementara KBRI di Manila. Boy mengatakan, Kementrian Luar Negeri sedang mengupayakan pemindahan 39 WNI lainnya. Jika proses verifikasi data selesai, seluruh WNI akan dipulangkan melalui Deportasi.

"Tentunya kita berharap bisa cepat dipulangkan, agar bisa membantu penyelidikan terhadap agen travel haji yang memberangkatkan mereka," kata Dia. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!