Presiden Tegaskan Tak Ada Tempat bagi Islam Radikal di Indonesia

"Tidak boleh lagi di antara kita ada yang punya agenda lain, ada yang memiliki agenda politik tersembunyi maupun terang-terangan untuk meruntuhkan NKRI yang ber-bhinneka tunggal ika," kata Jokowi.

Jumat, 14 Jul 2017 00:18 WIB

Presiden Joko Widodo memberi sambutan pada pembukaan Halaqah Nasional Alim Ulama di Jakarta, Kamis (13/7/2017). (Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga)

KBR, Jakarta - Presiden Joko Widodo mengingatkan kembali bahwa tidak ada tempat bagi kelompok radikal di Indonesia, termasuk dari kelompok Islam.

Hal itu dikatakan Presiden Joko Widodo ketika memberikan sambutan pada Pembukaan Halaqah Nasional Alim Ulama di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (13/7/2017).

Presiden Jokowi mengatakan keberadaan Pancasila dan Islam tidak untuk saling dipertentangkan maupun untuk dipisahkan. Pancasila, kata Presiden Jokowi, merupakan dasar negara Indonesia. Sedangkan, Islam merupakan akidah yang harus dijadikan pedoman bagi para pemeluknya.

"Tuntunan untuk mewujudkan Islam yang wasathiyah, yang moderat, yang santun. Bukan Islam yang keras, bukan Islam yang radikal. Islam radikal itu bukan Islamnya Majelis Ulama Indonesia. Islam yang radikal bukan Islamnya bangsa Indonesia," ujar Presiden.

Presiden Joko Widodo juga meminta seluruh umat Islam di Indonesia kembali pada semangat ta’awun yaitu semangat bekerja sama dan saling tolong-menolong dalam semua aspek kehidupan untuk mewujudkan Indonesia yang maju, berdaulat, bermartabat, berkepribadian, adil dan makmur.

"Kita harus berpegang pada komitmen kebangsaan kita. Tidak boleh lagi di antara kita ada yang mempunyai agenda lain, ada yang memiliki agenda politik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan untuk meruntuhkan NKRI yang ber-bhinneka tunggal ika. Tidak boleh lagi di antara kita, ada yang memiliki agenda mengganti negara kita dengan sistem pemerintahan dan kenegaraan yang bertentangan dengan Pancasila," tegas Presiden.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Per 1 September, Beras Medium Tak Boleh Dijual di Atas Rp 9.450

  • Kemendikbud: Kawasan di Cigugur, Kuningan Bukan Cagar Budaya
  • 10 Desa di Jateng Segera Punya Perdes Perlindungan Buruh Migran
  • Ini Dampak Topan Hato di Cina Selatan

Indonesia baru merayakan dirgahayu yang ke-72. Ada banyak harapan membuncah untuk generasi penerus yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.