Erupsi Merapi, Petugas Selidiki Dampak Lontaran Material

Gunung Merapi kembali meletus pukul 8.20 pagi ini dengan durasi 2 menit, setelah meletus terakhir pekan lalu. Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tinggi sehingga statusnya masih waspada.

Jumat, 01 Jun 2018 12:39 WIB

Gunung Merapi mengeluarkan material vulkanis saat terjadi letusan freatik terlihat dari Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (1/6). (Foto: ANTARA/ M Ayudha)

KBR, Yogyakarta - Gunung Merapi kembali meletus pagi tadi pukul 08.20 WIBI, Jumat (1/6/2018). Letusan terjadi setelah letusan terakhir pekan lalu.

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral Rudy Suhendar menyatakan, amplitudo maksimal letusan 77 mm dengan durasi dua menit. Pemantauan dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Jrakah menunjukkan ketinggian kolom asap 6.000 m mengarah ke barat laut. 

"Arah letusan ke arah barat laut dari pos pengamatan Jrakah. Versi terakhir ke arah barat daya. Pukul 08.58 WIB seputar pos pengamatan Jrakah terjadi hujan abu," kata Rudy Suhendar dalam konferensi pers di kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), jalan Cendana Yogyakarta, Jumat (1/6/2018).

Rudy menambahkan, laporan dari Pos PGM Jrakah dan Babadan menyebut terdapat asap putih di area hutan di sektor barat laut sekitar 1,5 km dari puncak.

"Kemungkinan mengindikasikan vegetasi yang terbakar akibat lontaran material Merapi. Kami masih menyelidiki sampel material itu," lanjut Rudy.


Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar (baju biru) dalam konferensi pers terkait erupsi Gunung Merapi. (Foto: KBR/ Eka Juniari)

Dikatakan lebih lanjut oleh Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar, ekstruksi magma ke permukaan masih membutuhkan waktu mengingat diperkirakan posisi magma kini masih berada di bawah 3 km.

"Letusan pagi ini menunjukkan aktivitas Gunung Merapi masih tinggi. Tingkat aktivitas  masih ditetapkan pada level II atau waspada," terang Rudy. Kata dia, Badan Geologi masih melarang aktivitas warga pada radius 3 km.

Baca juga:


Petugas Selidiki Kebakaran Vegetasi

Petugas Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyelidiki kebakaran vegetasi di radius 1,5 km dari puncak Gunung Merapi. Titik api dilaporkan muncul dari hutan di sisi barat laut Gunung Merapi, beberapa menit setelah gunung api aktif itu meletus pada pukul 08.20 WIB.

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG DIY Agus Budi Santoso menyatakan, ada kemungkinan lontaran material dari Gunung Merapi yang mengakibatkan kebakaran vegetasi. Munculnya lontaran material dari Gunung Merapi dinilai wajar, berkaca pada riwayat letusan gunung tersebut sebelumnya.

"Kalau dari rentetan waktu sepertinya iya (disebabkan material letusan Merapi). Tapi ini perlu dipastikan. Tapi ini wajar. Berdasar letusan dulu 2013, lontaran sampai pasar bubar dalam radius 1 km. Ini 1,5 km jadi masih wajar," kata Agus di kantor BPPTKG DIY, Jumat (1/6/2018).

Sementara itu, tim BPPTKG mengambil sampel material letusan dan menganalisanya. Analisa dilakukan untuk mengidentifikasi jenis material yang keluar dari Gunung Merapi.

“Petugas sedang naik untuk memastikan. Tapi dari kesesuaian rentang waktu dengan letusan sangat mungkin disebabkan material lontaran akibat letusan. Tapi perlu verifikasi di lapangan," ucap Agus.

Guna mengantisipasi lontaran material dengan suhu tinggi dan jarak lebih jauh, BPPTKG merekomendasikan warga untuk tidak mendekati puncak Merapi. Warga yang biasa mencari rumput untuk ternak juga diimbau untuk tak bekerja pada radius 3 km. 

"Untuk itulah rekomendasi kami untuk mensterilkan aktivitas manusia di radius 3 km."

Melalui akun twitter BPPTKG juga mengimbau agar masyarakat tenang. "Hutan terbakar di sektor barat laut Merapi bukan diakibatkan awan panas, melainkan material jatuhan atau balistik yang masih panas. Masyarakat agar tetap tenang sejauh ini Merapi tidak mengeluarkan awan panas," jelas BPPTKG melalui akun Twitter-nya.


Hutan terbakar akibat material jatuhan (balistik) Gunung Merapi yang meletus Jumat (1/6/2018) pagi. (Foto: Akun Twitter BPPTKG)

Baca juga:

Hutan Terbakar

Sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah menyatakan muntahan magma erupsi Gunung Merapi mengakibatkan hutan terbakar. Kepala BPBD Jateng Sarwa Pramana mengatakan kebakaran terjadi di tiga titik Gunung Merapi yang masuk daerah Boyolali.

Namun kata dia, tidak banyak masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi terdampak. "Vulkanik, sudah ada lontaran magma juga," jelasnya kepada KBR saat dihubungi, Jumat (1/6/2018) siang.

"Lainnya sudah nggak ada cuma ini ada kebakaran hutan di titik itu karena lontaran magma itu. Di tiga titik di wilayah Boyolali," tambahnya lagi.

Sarwa Pramana melanjutkan, pembagian masker ke masyarakat pun telah dilakukan guna mencegah dampak abu vulkanik erupsi gunung di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta tersebut. Pembagian dilakukan oleh BPBD Jawa Tengan dan PMI antara lain di Klaten, Magelang, dan Boyolali.

Gunung Merapi kembali meletus pukul 8.20 pagi ini dengan durasi 2 menit, setelah meletus terakhir pekan lalu. Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tinggi sehingga statusnya masih waspada atau level II. Radius 3 kilometer dari puncak Merapi ditutup bagi masyarakat.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Pemerintah sebagai pengemban amanah konstitusi harus yakin dan percaya diri dalam mengendalikan konsumsi rokok. Konstitusi mengamanahkan agar konsumsi rokok diturunkan demi kesehatan masyarakat.