Mudik Lebaran, Pemerintah Janjikan Tol Brexit Tak Lagi Macet Parah

"Upaya yang kami lakukan adalah bagaimana kita memperpanjang jalan ton, yang sebelumnya hanya sampai di Brebes Timur, sejauh mungkin ke Semarang."

Sabtu, 03 Jun 2017 12:00 WIB

Kemacetan di tol Brebes Timur saat mudik lebaran 2016. (Foto: Antara


KBR, Jakarta- Pemerintah menjanjikan tak akan ada kemacetan parah di pintu keluar tol Brebes Timur (Brexit) pada musim mudik Lebaran tahun ini. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Herry TZ mengatakan, strategi memecah kemacetan itu dengan memperpanjang jalur tol ke arah Semarang.

Menurut Herry, jalan tol yang semakin panjang, berarti kemacetan pada pintu keluar tol akan lebih terdistribusi dan tak hanya menumpuk di Brexit.

"Belajar dari pengalaman tahun lalu, di mana terjadi penumpukan yang sangat besar di Brebes Timur, nah upaya yang kami lakukan adalah bagaimana kita memperpanjang jalan ton, yang sebelumnya hanya sampai di Brebes Timur, sejauh mungkin ke Semarang. Kalau tahun ini, yang tahun ini keluar di Brebes Timur hanya lokal Brebes dan tegal, enam titik exit," kata Herry di Galeri Nasional, Jumat (02/05/2017).

Herry mengatakan, pintu tol itu nantinya hanya akan dilalui oleh pemudik yang menuju Brebes dan Tegal. Adapun pemudik lainnya akan melanjutkan perjalanan ke arah Semarang menggunakan jalan tol.

Herry berujar, jalan tol tersebut kini telah tersambung dari Brebes Timur hingga Weleri, meski hanya fungsional untuk kendaraan kecil. Kata Herry, jalan tol yang telah tersambung mencapai 110 kilometer, dari target yang mencapai Ngaliyan sepanjang 145 kilometer. Dengan perpanjangan jalan tol itu, berarti terdapat ke enam titik pintu keluar, yang terbagi dalam dua pintu menuju pantai utara Jawa, sedangkan empat pintu menuju pantai selatan. Pintu tol itu berada di kota Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, serta Kendal.

Bus AKAP

Kementerian Perhubungan mencatat 35 persen bus antarkota antarprovinsi (AKAP) yang akan beroperasi untuk musim mudik Lebaran tak layak jalan. Direktur Jenderal Perhubungan Darat Pudji Hartanto mengatakan, proses pengujian kelayakan kendaraan atau ramp check itu masih terus digelar hingga H-10 Lebaran. Khusus pada bus, proses ramp check baru kelar 80 persen.

"Yang paling susah bus, kita mau ramp check, dia berhenti, kita mau kejar, dia lari. Masih tetap terus kita lakukan, sampai H-10. Itu pun kita minta bantuan dinas perhubungan, semua lakukan ramp check, pada bus, AKAP khususnya. Itu baru 80 persen, darat saja. Kalau tak layak, akan disuruh perbaiki, nanti ramp check lagi, kalau lulus, kasih stiker," kata Pudji di Galeri Nasional, Jumat (02/05/2017).

Pudji mengatakan, bus memang moda transportasi yang paling sulit diuji. Kata Pudji, dari 35 persen bus yang tak layak jalan, kebanyakan karena faktor rem tangan yang tak berfungsi, lampu sein mati, serta wiper dan speedometer yang rusak. Padahal, kata Pudji, hal penting pada kendaraan itu adalah rem, ban, dan speedomoternya.

Pudji berujar, kementeriannya kini masih gencar menggelar ramp check, dibantu kantor dinas yang tersebar di daerah. Pudji mengatakan, ramp check itu berlaku untuk sekitar 48 ribu kendaraan, yang kini baru selesai 80 persen. Kata dia, pengujian paling mudah itu terjadi pada pesawat terbang, karena jumlahnya yang tak banyak. Kata dia, dari 532 pesawat terbang, 95 persen di antaranya sudah diuji kelayakannya. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Per 1 September, Beras Medium Tak Boleh Dijual di Atas Rp 9.450

  • Kemendikbud: Kawasan di Cigugur, Kuningan Bukan Cagar Budaya
  • 10 Desa di Jateng Segera Punya Perdes Perlindungan Buruh Migran
  • Ini Dampak Topan Hato di Cina Selatan

Indonesia baru merayakan dirgahayu yang ke-72. Ada banyak harapan membuncah untuk generasi penerus yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.