Kapolri: Penyerang Polda Sumut Merupakan Kelompok JAD

Penyerang polisi di Mapolda Sumatera Utara berjumlah 2 orang yakni SP (47) dan AR (30).

Minggu, 25 Jun 2017 15:03 WIB

Presiden Joko Widodo menerima Kapolri Tito Karnavian saat open house Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah di Istana Negara, Jakarta, Minggu (25/6). Foto: Antara

KBR, Jakarta - Kapolri Tito Karnavian menyebut penyerang polisi di Markas Polda Sumatera Utara yang menewaskan satu personel berasal dari kelompok Jamaah Anshar Daulah (JAD). Menurutnya, dugaan tersebut muncul setelah polisi menangkap 3 orang anggota JAD pada 2 pekan lalu. Kata dia, kelompok JAD terdeteksi akan melakukan teror di Sumatera Utara.

"Kita sudah mensinyalir ada sel dari kelompok JAD yang punya niat intens untuk melakukan penyerangan di sana. Makanya, dua minggu lalu ada tiga orang ditangkap. Tiga orang sudah ditangkap, ini sisa selnya," ujar Kapolri Tito Karnavian saat Halal Bihalal di Istana Kepresidenan, Jakarta, (25/6/2017)

Tito menambahkan,  penyerang polisi di Mapolda Sumatera Utara berjumlah 2 orang yakni SP (47) dan AR (30). Mereka meloncat pagar dan menyerang polisi yang tertidur saat berjaga bernama Martua Sigalingging dengan pisau pada Minggu pukul 03.00 WIB.  Martua meninggal dengan luka tusuk di beberapa bagian tubuh.

"Dua orang melompat pagar kemudian menyerang satu orang petugas di pos jaga yang kebetulan, kemungkinan besar sedang tidur. Kemudian ada polisi lain melihat kejadian, dia juga mau diserang kemudian dia berbalik badan lari, karena dia tidak bawa senjata. Dia berteriak, di sana ada Brimob yang jaga. Brimob langsung melakukan tembakan kepada pelaku, satu orang meninggal, satu orang terluka, tetapi masih hidup. Kita sedang kembangkan," katanya.

Polisi sudah menangkap 20-an lebih terduga teroris yang tergabung dalam jaringan kelompok JAD. Beberapa di antaranya terkait langsung dengan peristiwa bom Kampung Melayu. Polisi menyebut jaringan JAD memiliki rayon-rayon besar yang berada di beberapa daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, Sumatera Utara dan Jambi. Kepolisian akan memantau wilayah-wilayah tersebut.
 

Editor: Sasmito

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.