Polisi: Yang Ditangkap Itu Mau Bantu Napi Teroris di Mako Brimob

Menurut Setyo, informasi intelejen yang diterima polisi menyebut akan ada pergerakan sekelompok orang untuk menyokong perlawanan napi teroris di Mako Brimob.

Jumat, 11 Mei 2018 20:48 WIB

Napi kasus terorisme keluar dari rutan Brimob saat menyerahkan diri di Rutan cabang Salemba, Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Kamis (10/5). (Sumber: Humas Mabes Polri)

KBR, Jakarta - Markas Besar Kepolisian membenarkan adanya pergerakan simpatisan atau kelompok pendukung teroris dari daerah menuju Jakarta.

Juru bicara Mabes Polri, Setyo Wasisto mengatakan lima orang telah ditangkap di tempat berbeda. Dua di antaranya tewas ditembak setelah menyerang polisi.

"Polisi mendapatkan informasi intelijen, akan ada sekelompok orang yang menuju Mako Brimob untuk membantu rekan-rekan napi teroris yang melakukan perlawanan kepada petugas di Rutan Salemba Cabang Mako Brimob. Dari hasil info intel tersebut maka polisi bergerak menangkap 4 orang," terang Setyo di Jakarta, Jumat (11/5/2018).

Para anggota kelompok simpatisan teroris itu ditangkap di kawasan Stasiun Tambun, Bekasi dan di sekitar Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Empat orang di antaranya berinisial AM asal Medan, HG asal Tasikmalaya, RA asal Ciamis, dan JG asal Garut. Polisi menduga kelompok ini masuk jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) pimpinan Aman Abdurrahman. Aman saat ini masih diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas tuduhan mendalangi sejumlah aksi teror.

Sementara seorang lagi berinisial TS ditangkap di wilayah Mako Brimob pada Jumat (11/5/2018) dini hari. "TS ini ditembak lantaran saat akan dimintai keterangan ia menyerang anggota," kata Setyo.

Dalam insiden tersebut, seorang polisi tewas lantaran ditusuk oleh salah satu terduga teroris.

Baca juga:

Menurut polisi, TS mengejar petugas seraya menikamkan pisau. Insiden itu mengakibatkan salah seorang anggota polisi Marhum Frenje tewas.

"Tiba-tiba TS mengeluarkan pisau yang ternyata disimpan di bawah alat kemaluannya."

Hingga kini polisi masih menyelidiki motif kejadian tersebut. Polisi menyita sejumlah barang bukti di antaranya pisau, sangkur, belati, amunisi, peluru gotri, golok, busur besi, dan peluru senapan angin.

Dalang Kerusuhan Mako Brimob

Sementara itu, proses investigasi untuk mengungkap motif dan dalang di balik ricuh Mako Brimob itu masih berjalan. Juru bicara Mabes Polri Setyo Wasisto masih mendalami keterangan sejumlah saksi terkait rusuh yang mengakibatkan lima polisi dan seorang napi teroris tewas tersebut. Kata dia, pemeriksaan terhadap 10 narapidana teroris belum rampung.

"Ini sedang dipilah-pilah, jadi saki-saki sedang dipilah dan akan ada proses lagi," ujar Setyo ke wartawan, Jumlat (11/5/2018).

Polisi juga belum bisa memastikan penyerangan itu direncanakan atau spontan. "Apakah spontanitas atau sudah direncakan itu nanti dari penyidikan akan ketahuan," kata dia.

Ia juga belum bisa menjelaskan peran dan jaringan 10 narapidana teroris yang kini masih diperiksa tersebut. Pada proses pengambilalihan Mako Brimob oleh polisi, dari 155 tahanan di Mako Brimob ada 10 orang di antaranya yang berkeras tak mau menyerahkan diri. Kesepuluh orang ini baru menyerah setelah polisi melakukan penyerbuan. Tim investigasi polisi lantas memeriksa 10 napi itu untuk menggali peran masing-masing dalam kerusuhan Mako Brimob.

Baca juga:

Dalam penyampaian keterangan pers itu, Setyo Wasisto membantah bahwa para narapidana teroris itu menggunakan senjata tajam saat menganiaya anggota Polri hingga tewas. Menurut Setyo, berdasarkan barang bukti, para napi menggunakan pecahan kaca untuk melukai korban.

"Infonya tidak pakai senjata tajam, pakai kaca," kata Setyo.

Kerusuhan di rumah tahanan napi teroris di Mako Brimob Kelapa Dua pada Selasa (8/5/2018) lalu itu mengakibatkan lima anggota Polri dan seorang narapidana teroris tewas. Sementara beberapa orang lainnya luka-luka.



Editor: Nurika Manan

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".