Penjelasan Kapolri soal Bom yang Meledak di Surabaya & Sidoarjo

"Ini sejenis bom pipa, kecil. Yang dikenal kelompok-kelompok ISIS di Syiria dan Iraq. Saking berbahayanya bahan peledak ini disebut dengan The Mother of Satan, ibu daripada setan."

Senin, 14 Mei 2018 22:27 WIB

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (tengah) saat memberi keterangan pada wartawan usai meninjau rutan cabang Salemba Mako Brimob Kelapa Dua pasca kerusuhan di Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5). (Foto: ANTARA/ Indrianto)

KBR, Surabaya - Kapolri Tito Karnavian menyebut bom yang diledakkan di tiga gereja di Surabaya dan Rusunawa di Sidoarjo menggunakan peledak jenis triacetone triperoxide (TATP). Bahan ini menurutnya sangat dikenal di kalangan kelompok ISIS.

"Kelompok JAD ini mereka membuat bom sementara ditemukan Puslabfor bahan peledak TATP. Ini yang sangat dikenal dengan kelompok ISIS," kata Tito di Mapolda Jawa Timur, Surabaya, Senin (14/5/2018).

"Ini sejenis bom pipa, kecil. Yang dikenal kelompok-kelompok ISIS di Syiria dan Iraq. Saking berbahayanya bahan peledak ini disebut dengan The Mother of Satan, ibu daripada setan," tambahnya lagi.

Sebutan itu menurut Tito muncul karena bom jenis itu bukan saja berdaya ledak tinggi melainkan juga sangat sensitif. "Kalau bom high explosive lain seperti TNT atau C4 itu harus diledakkan dengan ledakan detonator maka di sini, kadang-kadang dengan guncangan atau panas saja itu bisa meledak sendiri," kata dia.

Tito menjelaskan, bom TATP ini dari berasal dari campuran bahan peledak yang mudah didapat. "Dibuat dengan bahan yang mudah diperoleh dan diramu sedemikian rupa dengan bahan lain dan, serbuknya menjadi serbuk putih dan bisa jadi bahan peledak high eksplosive."

Bahan TATP tersebut menurut Tito bisa menghasilkan kekuatan yang besar meski dalam jumlah sedikit.

"High exsplosive jumlahnya tidak harus besar, tetapi perubahan padat menjadi gas dalam ruangan tertutup bisa menjadi daya ledak besar," terangnya.

Baca juga:

Hasil pengejaran tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap lima orang terkait rentetan serangan tersebut. Salah satunya, menurut Tito, merupakan tokoh penting kedua setelah DS--pelaku bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuna.

"Sampai subuh tadi tertangkap lima orang, satu di antaranya bernama BS yang merupakan salah satu tokoh nomor dua penting setelah DS. Karena melakukan perlawanan, tertembak mati. Dan di lima orang ini ditemukan bom yang sama."

Tito menambahkan, telah mengidentifikasi jaringan kelompok JAD pelaku rentetan bom di Surabaya dan Sidoarjo. "Kami sudah mendeteksi kelompok mereka," kata dia. Namun ia menyebut, para terduga teroris itu juga punya keahlian melepaskan diri deteksi intelejen.

"Mereka tidak bodoh dan punya manual man counter, supaya tidak termonitor dan bisa surveilence."

Minggu (13/5/2018) pagi lalu, tiga gereja di Surabaya menjadi sasaran teror bom. Menurut Polda Jawa Timur, ledakan pertama terjadi di Gereja Santa Maria pada pukul 06.30 WIB, diikuti bom di Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro pukul 07.15 WIB, lalu di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno pukul 07.53 WIB.

Setelah tiga teror tersebut, masih pada hari yang sama bom juga meledak di sebuah Rusunawa di Sidoarjo, Jawa Timur.

Baca juga:


Identifikasi Korban

Polisi masih terus mengidentifikasi korban ledakan bom bunuh diri di sejumlah lokasi di Surabaya dan Sidoarjo. Juru bicara Polda Jawa Timur Frans Barung Mangera mengatakan, tim DVI Polda Jatim berhasil mengidentifikasi lima korban ledakan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya.

"Pada hari ini bertempat di DVI pusat posmortem dan antemortem Polda Jawa Timur kami sampaikan ada lima jenazah yang kami identifikasi," katanya di Rumah Sakit Bayangkara Polda Jawa Timur, Senin (14/5/2018).

Kata dia, proses identifikasi menggunakan data primer dan sekunder korban. "Dan sudah diidentifkasi dan datanya sudah tidak terbantahkan," jelasnya. Barung membeberkan, korban pertama bernama Singka Edi Handoko (58) yang tinggal di Jakarta Utara.

"Dengan nomor Jenazah PMI FSF 002/Ngagel. Jadi kejadian ini di Ngagel," katanya.

Sementara korban kedua atas nama Lim Wakni (56). Ia juga merupakan korban ledakan di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel. " Jenazah ketiga berinisial D usia 15 tahun, merupakan korban ledakan di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno. Korban keempat yang berhasil diidentifikasi adalah Nursin (56) dan Warsiman (57) yang merupakan korban di GPPS Jalan Arjuno.

Menurut Barung, untuk sementara ada 15 jenazah yang sudah disampaikan ke keluarga korban hingga Senin (14/5/2018).

Baca juga:



Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sedang melaksanakan Program Penguatan Reformasi Kepabeanan dan Cukai (PRKC). Program ini sudah dimulai sejak Desember 2016 hingga saat ini.