Menag: Penggunaan Cadar Bukan Jadi Alasan Kita untuk Curiga

Dengan keterbukaan itu, menurutnya masyarakat tak lagi punya alasan untuk menyimpan curiga. "Jadi, penggunaan cadar bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk merasa risau, merasa galau, merasa curiga."

Kamis, 17 Mei 2018 15:43 WIB

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta pemakluman kepada para pengguna cadar untuk memahami situasi saat ini. Ia mengakui rentetan teror di Surabaya dan Sidoarjo mau tak mau mempengaruhi cara pandang sebagian orang terhadap perempuan bercadar.

Karena itu Lukman pun meminta agar para pengguna cadar kini lebih terbuka dengan lingkungan sekitar.

"Harus lebih kooperatif, harus lebih terbuka, lebih bisa membaur dengan lingkungannya. Sehingga semua kita merasa aman, meskipun ada sesama saudara kita yang menggunakan cadar," kata Lukman di kantornya, Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Dengan keterbukaan itu, menurutnya masyarakat tak lagi punya alasan untuk menyimpan curiga. "Jadi, penggunaan cadar bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk merasa risau, merasa galau, merasa curiga, bahkan merasa khawatir."

Rentetan aksi bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Salah satunya muncul stigma terhadap perempuan bercadar. Dalam salah satu aksi meledakkan diri di Surabaya, salah satu pelaku terlihat menggunakan cadar.

Lukman mengatakan, pilihan menggunakan cadar boleh jadi karena hasil penerapan ajaran agamanya. Hal inilah yang kata dia harus dihargai sebagai hak setiap orang menjalankan keyakinan.

Begitupun sebaliknya, menurutnya para pengguna cadar juga harus memberikan rasa nyaman ke lingkungan sekitar.

Di tengah situasi yang serba meresahkan ini, Menteri Lukman juga meminta peran tokoh agama dan pimpinan Ormas Keagaman untuk menenangkan. Misalnya, dengan menyampaikan materi ceramah yang mendamaikan.

"Menjadi tantangan bagi para pemuka agama, ulama, kyai, tokoh-tokoh agama, pimpinan ormas-ormas keagamaan, dan kita semuanya dan tentu Kementerian Agama," kata Lukman.

"Untuk semakin proaktif menjelaskan esensi agama Islam yang menebarkan rahmat, yang menebarkan kasih sayang, yang menebarkan kedamaian bagi sesama umat manusia," imbuhnya.

Ia juga meminta masyarakat mengambil pelajaran atas teror tersebut, dengan meningkatkan kewaspadaan.

Baca juga:


Polisi: Harap Maklum Jika Mencurigai Masyarakat

Usai ricuh di Mako Brimob Kelapa Dua diikuti teror bom di Surabaya dan Sidoarjo, kepolisian memberlakukan status siaga satu untuk menjamin keamanan. Tak jarang, sejumlah pemeriksaan terhadap orang yang dicurigai atau patroli pun dilakukan di beberapa daerah.

Juru bicara Mabes Polri, Setyo Wasisto meminta pengertian masyarakat bila ada petugas yang mencurigai lantas menggeledah barang bawaan.

"Ya mohon maaf kalo kepada masyarakat yang kemudian distop dan dimintai keterangan atau ditanya. Seharusnya kooperatif kalau dia tidak punya masalah, karena yang viralkan ada yang sampai buang-buang bajunya," terang Setyo kepada wartawan di Mabes Polri Jakarta, Selasa (15/5/2018).

"Sebetulnya tidak perlu begitu kalau dia memang tidak punya masalah buka saja, anggota juga tidak berani mendekat, karena kalau mendekat tiba-tiba itu bahan peledak atau bom kita juga harus menjaga keselamatan juga," katanya lagi.

Pernyataan itu menanggapi beberapa video yang beredar tentang kekesalan seorang warga yang dicurigai oleh petugas. Setyo menjelaskan, pemeriksaan itu semata dilakukan untuk mengantisipasi aksi teror yang sedang marak di pelbagai daerah.

Setyo melanjutkan, tidak ada SOP khusus untuk mengidentifikasi orang-orang yang dicurigai bakal melakukan teror.

"Tidak bisa (hanya) seperti itu (yang bercadar, beransel atau lainnya), bisa saja bom dibawa di badannya tanpa dia bawa apa-apa. Yang di gereja tidak kelihatan bawa apa-apa tapi meledak. Jadi memang kami punya SOP tapi tidak bisa seperti itu, tetapi masyarakat juga harus maklum kalau mereka sampai dicurigai ya buka saja, jangan marah kalau memang tidak bermasalah."

Ia menambahkan, para petugas di lapangan sudah memiliki intusisi untuk mencurigai seseorang. Pemeriksaan pun kata Setyo tak mungkin dilakukan asal-asalan atau disertai intimidasi melalui pertanyaan. Kata dia ada penilaian tersendiri dari petugas yang berjaga di lapangan dalam antisipasi teror.

Sebelumnya, beredar beberapa video mengenai pemeriksaan polisi usai rentetan aksi teror di Surabaya dan Sidoarjo. Salah satunya, video seorang pria yang marah ketika petugas mencurigainya dan meminta membuka kardus bawaannya. Pria itu mengenakan sarung dan membawa kardus--yang setelah dibongkar berisi pakaian dan sejumlah buku. Video lain menunjukkan petugas menggiring perempuan bercadar turun dari bus. Menurut petugas di Terminal Tulungagung, hal itu dilakukan karena perempuan itu tak menjawab saat diberi sejumlah pertanyaan.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob

  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

pernah melihat atau bahkan mengalami sendiri perlakuan diskriminatif / ujaran kebencian di ruang pendidikan, tempat kerja, lembaga pemerintahan, dan ruang publik lainnya tapi tidak tahu lapor kemana?