Cina Tambah Kuota Impor Minyak Kelapa Sawit dari Indonesia

Li Keqiang bahkan secara khusus menyanggupi peningkatan impor minyak kelapa sawit tambahan minimal 500 ribu ton dari Indonesia.

Senin, 07 Mei 2018 23:16 WIB

Presiden Joko Widodo (kanan) berjabat tangan dengan Perdana Menteri Cina Li Keqiang (kiri) saat kunjungan kenegaraan di beranda Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (7/5). (Foto: ANTARA/ Puspa P)

KBR, Jakarta - Presiden Joko Widodo ingin memangkas defisit neraca perdagangan Indonesia dari Cina yang tahun ini menyentuh USD12,72 miliar atau Rp171,7 trliun. Tekad ini disampaikan Jokowi saat bertemu Perdana Menteri Cina Li Keqiang. Kata dia, langkah menggerus defisit itu dengan memperbesar ekspor ke negeri tirai bambu tersebut.

"Dalam pertemuan bilateral, kami membahas upaya peningkatan kerja sama di bidang ekonomi, termasuk perdagangan," ujar Jokowi di Istana Bogor, Senin (7/5/2018).

Selama ini, neraca perdagangan Indonesia tercatat selalu defisit dari Cina lantaran nilai impor kerap lebih tinggi ketimbang ekspor.

Tren defisit semakin terasa sejak 2013 dan, terus meningkat hingga mencapai puncak pada 2015 dengan jumlah USD 14,36 miliar atau Rp193,86 triliun. Adapun sepanjang 2017 defisit neraca perdagangan Indonesia dari Cina sebesar USD12,72 miliar atau Rp171,7 triliun.

Setelah pertemuan tersebut, Jokowi langsung mendapat komitmen dari Li Keqiang dengan memborong beberapa komoditas Indonesia, seperti minyak kelapa sawit.

Li Keqiang bahkan secara khusus menyanggupi peningkatan impor minyak kelapa sawit (crude palm oil CPO) minimal 500 ribu ton dari Indonesia. Jika harga minyak kelapa sawit mentah Indonesia sekitar USD 708 per metrik ton, berarti akan ada tambahan nilai impor dari Cina setidaknya USD 389,4 miliar atau Rp5,25 triliun.

Baca juga:

Menurut Jokowi, Perdana Menteri Cina itu juga menjanjikan bakal lebih banyak membeli produk dari Indonesia. Utamanya, produk kelapa sawit, sarang burung walet, kopi, serta buah-buah seperti manggis, buah naga, dan salak.

"Sebagai negara dengan penduduk 1,37 miliar, RRT merupakan pasar yang besar sekali bagi komoditas dan produk-produk Indonesia, dan disambut sangat baik oleh Perdana Menteri Li Keqiang."

Li Keqiang pun berkata, produk kopi dan buah-buahan tropis dari Indonesia akan sangat diunggulkan di negaranya. Namun, ia juga meminta Jokowi tak membatasi ekspor jeruk mandarinnya ke Indonesia.

"Saya berharap Indonesia bisa meningkatkan impor jeruk mandarin. Kami memastikan bahwa standar dan kualitas jeruk mandarin sesuai dengan standar dan kualitas Indonesia," kata Li Keqiang.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.