Program Sejuta Rumah, Jokowi Resmikan Rumah Tapak Murah dengan DP 1 Persen

Jokowi menegaskan akan terus membangun hunian murah di seluruh Indonesia. Ia optimistis target program sejuta rumah akan tercapai.

Kamis, 04 Mei 2017 21:35 WIB

Presiden Joko Widodo tersenyum usai melihat rumah tapak murah di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (4/5/2017). (Foto: Biro Pers Istana)


KBR, Jakarta - Presiden Joko Widodo meresmikan pembangunan 8.749 unit rumah murah di Villa Kencana, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

Rumah tapak tipe 25/60 ini dijual dengan harga Rp112-Rp141 juta.

Menurut Jokowi, masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) bisa memanfaatkan kredit perumahan rakyat (KPR) Bank Tabungan Negara (BTN) dengan uang muka 1 persen atau sekitar Rp1,12 juta dan cicilan perbulan sebesar 5 persen atau sekitar Rp700-Rp900 ribu.

Jokowi menegaskan akan terus membangun hunian murah di seluruh Indonesia. Ia optimistis target program sejuta rumah akan tercapai.

"Inilah yang ingin kita bangun di mana-mana di seluruh kota di tanah air karena sudah dianggarkan di APBN, di DIPA di Kementerian PU," kata Presiden Jokowi saat meresmikan Villa Kencana, Cikarang, Bekasi, Kamis (4/5/2017).



Jokowi mengatakan proyek pembangunan sejuta rumah murah itu akan dilakukan di Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua dan Sulawesi.

"Dan targetnya saya kira akan tercapai seperti yang sudah kita gariskan," kata Jokowi.

Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN) Maryono mengatakan telah merealisasikan sebanyak 1,34 juta unit rumah sejak 2015 hingga kuartal I tahun ini.

Untuk mendukung program sejuta rumah itu, BTN mengucurkan setidaknya Rp144 triliun.

"Angka itu terdiri dari 433.350 unit yang telah menjadi KPR dan 908.032 masih dalam proses pembangunan, baik dalam bentuk rusunami dan rumah tapak," kata Maryono.



Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!