Halte Transjakarta Kampung Melayu Ditutup Sementara

Halte Kampung Melayu akan kembali beroperasi setelah ada kepastian dari Kepolisian.

Rabu, 24 Mei 2017 23:09 WIB

Brimob bersiaga di TKP ledakan bom di Halte Kampung Melayu, Jakarta. Foto: Rafik Meilana

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta - Halte Transjakarta jurusan Kampung Melayu ditutup sementara akibat ledakan di Terminal Kampung Melayu Jakarta Timur. Juru Bicara Transjakarta, Wibowo mengatakan halte akan kembali melayani penumpang sampai Kepolisian menyatakan lokasi Kampung Melayu aman. Saat ini, rute menuju dan dari kampung Melayu dialihkan.

"Halte Kampung Melayu tidak melayani pelanggan, baik menurunkan maupun menaikan. Kalau koridor 5 arah Kampung Melayu itu berputar di Traffic Light Kelor," ujarnya saat dikonfirmasi KBR, Rabu, 24 Mei 2017.

Wibowo menyebut tidak ada korban jiwa baik dari petugas TJ, maupun para penumpang. Saat ledakan, para petugas langsung mengevakuasi penumpang. "Ledakan terjadi di Kampung Melayu, bukan di halte Transjakarta," pungkasnya.

Sementara itu, titik ledakan saat ini sudah disterilisasi oleh pasukan Brimob. Masyarakat dilarang untuk mendekati hingga 100 meter dari lokasi ledakan. (dmr)

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.