Yang Dibicarakan KSAL dengan Jokowi Jelang Pensiun

"Intensitas kerja sama dengan semua instansi. Relasi itu penting. Karena zaman now, tantangan cepat berubah. Modus-modus (kejahatan) juga banyak, bervariasi."

Kamis, 19 Apr 2018 18:01 WIB

KSAL Laksamana TNI Ade Supandi (kanan) bersama KSAD Jenderal TNI Mulyono (tengah) dan KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna (kiri) usai menghadiri Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW Tahun 1439 H di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (10/4). (Foto: ANTARA)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Ade Supandi melapor kepada Presiden Joko Widodo terkait masa tugasnya yang berakhir 1 Juni 2018 mendatang.

Usai bertemu Jokowi, Ade membantah menyodorkan nama calon pengganti. Menurutnya pertemuan itu hanya membahas perkembangan Angkatan Laut selama dipimpin olehnya sebagai bahan pertimbangan Jokowi memilih KSAL baru.

"Enggak saya menghadap presiden melaporkan kegiatan Angkatan Laut selama saya memimpin," ujar Ade di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (19/4/2018).

"Saya juga melaporkan 1 Juni akan purna tugas. (Beri masukan soal pengganti?) Enggak. Saya hanya laporan permasalahan yang saya alami selama memimpin, yang akan menjadi bahan beliau (memilih)," tambahnya lagi.

Baca juga:

Tiga tahun menjabat, Ade Supandi akan pensiun dalam dua bulan. Lima nama perwira disebut-sebut berpeluang menggantikan Ade. Mereka adalah Wakil KSAL Achmad Taufiqoerrochman, Kepala Staf Umum TNI Didit Herdiawan Ashaf, Kepala Badan Keamanan Lait Arie Soedewo, Komandan Sekolah Staf dan Komandk TNI Trusono, dan Komandan Jenderal Akademi TNI Siwi Sukma Adji.

Ade mengaku menyerahkan sepenuhnya nama KSAL yang baru kepada Jokowi. Dia berharap penggantinya bisa melanjutkan apa yang sudah ia kerjakan selama memimpin Angkatan Laut.

Yang utama, menurut dia, sosok KSAL baru harus luwes menjalin hubungan dengan lembaga lain.

"Intensitas kerja sama dengan semua instansi. Relasi itu penting. Karena zaman now, tantangan cepat berubah. Modus-modus (kejahatan) juga banyak, bervariasi."

Baca juga:





Editor: Nurika Manan
Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".