Pemerintah Diminta Bentuk TPF, Kawal Investigasi Penyerangan Penyidik KPK

"Tugasnya untuk mengontrol investigasi yang dilakukan oleh Kepolisian. Gagasan ini menjadi penting karena selama ini kejadian seperti ini tidak pernah dibongkar tuntas,"

Rabu, 12 Apr 2017 08:38 WIB

Ilustrasi: Seorang aktivis yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi membentang poster saat mengikuti aksi dukungan di depan gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (11/4). (Foto: Anta


KBR, Jakarta- Pemerintah diminta membentuk tim pencari fakta untuk mengawasi jalannya investigasi penganiayaan dan penyerangan penyidik senior KPK Novel Baswedan. Pegiat Antikorupsi Usman Hamid mengatakan, kejadian penyerangan terhadap Novel bukanlah baru pertama kali terjadi.

Kata dia,kejadian ini tidak pernah diinvestigasi tuntas oleh kepolisian. Untuk itu perlu adanya tim pencari fakta agar proses investigasi berjalan dan membuka aktor penyerang.

"Saya kira ada wacana, saya kira itu juga penting tentang pembentukan tim gabungan pencari fakta. Tugasnya untuk mengontrol investigasi yang dilakukan oleh Kepolisian. Gagasan ini menjadi penting karena selama ini kejadian seperti ini tidak pernah dibongkar tuntas," jelas Pegiat Antikorupsi Usman Hamid kepada KBR, Selasa (11/4/2017).

Pengamanan

Wakil Kepala Polda Metro Jaya, Suntana mengatakan, polisi sudah mengingatkan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan untuk berhati-hati. Peringatan itu diberikan sebelum terjadi penyerangan terhadap Novel yang menangani korupsi proyek KTP elektronik.

"Kita sudah beberapa kali mengingatkan yang bersangkutan untuk berhati-hati termasuk meningkatkan pengamanan. Ini hanya prosedur umum. Semua pejabat negara, pejabat yang sedang melaksanakan tugas besar dan bahaya, polisi berkewajiban memberikan pengamanan," kata Suntana di Mapolda Metro Jaya, Rabu (12/04/17).

Namun Suntana belum bisa memastikan apakah penyerangan terhadap Novel berkaitan dengan kasus yang ditanganinya atau tidak. Ia mengatakan, polisi masih melakukan penyelidikan.

"Kami sudah olah TKP, menyita barang bukti, memeriksa saksi-saksi dan melihat CCTV yang ada di sana," ujarnya.

Sementara itu, juru bicara Polda Metro Jaya Argo Yuwono mengatakan, polisi tidak menemukan indikasi bahaya sebelum peristiwa penyerangan terhadap Novel. Namun prosedur pengamanan sudah polisi lakukan.

"Tidak ada indikasi, tidak ada," kata Dia. 

Kepolisian dan KPK perlu membentuk tim pengamanan khusus agar kejadian ini tidak terulang kembali. Kata Usman Hamid, Kapolda Metro Jaya M. Iriawan pernah menyampaikan niatnya untuk memberikan perlindungan khusus kepada penyidik-penyidik KPK seperti Novel Baswedan. Namun, hingga kini rencana itu tidak pernah terealisasi.

"Memang dalam kasus Novel, Kapolda Muhammad Iriawan sempat menawarkan untuk menempatkan orang-orangnya untuk mengamankan Novel. Namun, Novel secara diplomatis berusaha menjelaskan bahwa sebaiknya pengamanan seperti itu ditempuh pihak kepolisian melalui pimpinan KPK karena memang posisi Novel kan tidak secara langsung bukan pimpinan KPK. Kalau pun ada tawaran itu, dan Novel tidak merasa perlu negara harus proaktif, walau pun tanpa sepengetahuan Novel," ujarnya.

Menanggapi   itu,  Wakil Ketua KPK La Ode Syarief mengatakan tidak mengetahui tentang tawaran perlindungan dari Polda Metro terhadap Novel Baswedan yang diutarakan sejak sebulan lalu. Syarief juga enggan mengomentari lebih lanjut informasi dari Usman tersebut.

"Saya tidak mau komentar soal itu. Pimpinan tidak mengetahui itu, dan saya tidak mau mengomentari itu," ujarnya singkat kepada KBR, Selasa (11/4/2017) malam.

Novel telah beberapa kali diserang atau pun menghadapi upaya kriminalisasi. Penyidik senior KPK itu pernah ditabrak mobil saat mengendarai motornya ke KPK. Pada 2004, dia pernah dilaporkan atas dugaan penganiayaan terhadap seorang pencuri sarang burung walet. Saat itu dia menjadi penyidik di Polrestabes Bengkulu.

Kondisi Novel

Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki pagi ini menjenguk penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan di Rumah Sakit Mata Jakarta (JEC) Menteng. Ia menjelaskan bahwa kondisi Novel saat ini masih harus mendapat perawatan intensif selama 10 hari di rumah sakit itu.

"Yang berdampak itu adalah bagian mata. Tadi bercerita pak Novel akan 10 hari dirawat di sini, atau nanti kemungkinan akan ke Singapur kalau diperlukan ada tindakan medis yang lebih intensif," ujar Teten, setelah menjenguk Novel di JEC, Rabu (04/12).

Ia mengatakan selain membicarakan soal kesehatannya, mereka tidak membicarakan hal lain, ia juga datang untuk menyampaikan salam dari Presiden Joko Widodo yang belum bisa menjenguk Novel pascapenyiraman air keras tersebut.

Kata Teten bagian mata sebelah kiri Novel masih berfungsi untuk melihat namun mata kanannya belum bisa melihat secara normal.

"Ya kita doakan saja semoga pak Novel bisa segera pulih," pungkasnya sebelum meninggalkan rumah sakit 

Editor: Rony Stanggang 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Pemerintah Gandeng Korsel untuk Produksi Batere Mobil Listrik

  • Relawan PMI Mulai Bagikan Masker di Sekitar Gunung Agung
  • Menteri Perdagangan Ragukan Data Harga Pangan
  • Piala UEFA, Meski Kalah Arsenal Tetap Aman di Puncak Grup H

Guna mengembangkan dan mengapresiasi Organisasi Kepemudaan, Kementerian Pemuda dan Olahraga menyelenggarakan "Pemilihan Organisasi Kepemudaan Berprestasi 2017"