Mabes Polri: Teroris Lebih Banyak Rekrut Anak Muda

"Jadi mereka lebih senang yang muda-muda karena lebih idealis. Kalau udah tua mungkin penyakitan, dianggap kurang lincah dan kurang berani," kata Boy Rafli di Mabes Polri, Senin (10/4/2017).

Senin, 10 Apr 2017 22:42 WIB

Seorang anggota Brimob berjaga di RS Bhayangkara Polda Jawa Timur, Sabtu (8/4/2017). Polisi menembak mati enam orang terduga teroris di Tuban Jawa Timur akhir pekan lalu. (Foto: ANTARA)


KBR, Jakarta - Petinggi Markas Besar Kepolisian Indonesia (Mabes Polri) menyebut kelompok teroris di Indonesia saat ini lebih banyak merekrut anak muda untuk mendukung aksi-aksi mereka.

Juru bicara Mabes Polri Boy Rafli Amar mencontohkan apa yang dilakukan kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang terlibat baku tembak dengan Polri baru-baru ini di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Boy Rafli mengatakan enam orang dari kelompok JAD yang tewas dalam baku tembak itu didominasi anak muda usia sekitar 20-an tahun.

"Jadi mereka lebih senang yang muda-muda karena lebih idealis. Kalau udah tua mungkin penyakitan, dianggap kurang lincah dan kurang berani," kata Boy Rafli di Mabes Polri, Senin (10/4/2017).

Dari enam orang yang tewas di Tuban, salah satunya adalah Satria Aditama, lulusan SMK Semarang berusia 18 tahun.

Boy Rafli belum bisa menyebutkan secara detil usia enam orang yang tewas dalam bakutembak di Tuban. Boy mengatakan Polri masih menunggu hasil identifikasi dari laboratorium forensik.

"Anak muda memang berpotensi dijadikan sel-sel oleh mereka. Oleh karena itu membangun ketahanan pemuda dari pengaruh gerakan radikal harus dilakukan sebagai upaya pencegahan," kata Boy Rafli.

Boy Rafli mengatakan anak-anak muda lebih mudah disusupi ajaran radikal dibandingkan orang tua. Apalagi, kata Boy, jika mereka diberikan fasilitas seperti uang saku, kendaraan dan senjata.

"Bawa senjata seperti ini kan keliatannya gagah," kata Boy Rafli sambil menunjukkan foto dan barang bukti senjata rakitan yang disita dari lokasi kejadian. "Anak-anak muda ini didoktrin bahwa polisi itu musuh," tambah Boy.

Boy meminta semua pihak untuk aktif memberikan pemahaman yang baik kepada kalangan anak pemuda, mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah sampai lingkungan sosialnya.

Baca juga:


Mendegradasi pemerintah

Pengamat terorisme Al-Chaidar menilai kelompok-kelompok teroris pendukung ISIS menggunakan tenaga rekrutan berusia muda untuk mendegradasi atau untuk meledek pemerintahan yang sedang berkuasa.

Al-Chaidar mengatakan kelompok seperti Jamaah Ansharut Daulah (JAD) merekrut anak muda bukan untuk mendidik mereka menjadi lasykar atau tentara profesional, melainkan untuk strategi perang.

"Mereka ingin mendegradasi pemerintah atau lawan perang mereka. Jadi kalau mereka kalah, kelompok ini bisa berdalih, wajar saja kalah yang dilawan anak-anak," kata Al-Chaidar aat dihubungi KBR, Senin (10/4/2017).

Al-Chaidar mengatakan kelompok JAD yang berafiliasi dengan ISIS meniru cara-cara yang dipakai ISIS di Suriah. Dalam setiap aksinya, kata Al-Chaidar, ISIS menggunakan anak-anak untuk menyiksa tawanan dan dijadikan kombatan.

"Mereka ini tidak paham bahwa anak-anak tidak boleh dilibatkan dalam perang. Mereka memiliki pemahaman fiqih dan syariat yang berbeda dengan fiqih dan syariat Islam pada umumnya," kata Al-Chaidar.

Al-Chaidar menjelaskan, kelompok JAD didirikan oleh Aman Abdurrahman yang kini menjadi narapidana di Nusakambangan. Sedangkan pimpinan JAD saat ini, kata Al-Chaidar adalah Zainal Anshori dan Fauzan Mubarok yang merupakan ahli penyergapan dan persenjataan. Kelompok ini merupakan jaringan lama yang dulu pernah masuk dalam jaringan Jamaah Islamiyah (JI).

"Mereka jaringan Al-Qaeda lama di Lamongan. Mereka berasal dari JI, lalu diambil alih oleh JAD, di bawah pimpian Oman Abdurrahman," kata Al-Chaidar.

Polisi menduga Zainal Anshori merupakan salah satu dari tiga orang yang yang ditangkap Densus Antiteror di Lamongan, pada Jumat (7/4/2017).

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Kemenhub Imbau Truk Barang Mulai Operasi 3 Juli

  • H+4 Lebaran, Stasiun Pasar Senen Masih Padat Penumpang
  • Bayi Simpanse Korban Penyelundupan Mati
  • Ronaldo Punya Anak Kembar

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?