Karst Kendeng, Ahli Geologi Desak Fokus Pada Gua Bawah Tanah

"Jadi pemetaan itu benar-benar mencari data kondisi yang sesungguhnya kawasan karst Watuputih itu,"

Selasa, 04 Apr 2017 10:53 WIB

Ilustrasi: Aksi petani Kendeng di depan istana presiden. (Foto: KBR/Ade Irmansyah).

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta-  Badan Geologi Kementerian ESDM didesak fokus pada pemetaan gua bawah tanah dalam penelitian dan kajian kawasan karst di Watuputih, Rembang, Jawa Tengah. Menurut Ahli Geologi  UPN Veteran Yogyakarta Eko Teguh Paripurna, pemetaan gua-gua bawah tanah yang selama ini menjadi perdebatan harus menjadi prioritas tim peneliti.

Kata dia, selain tim geologi, Badan Geologi juga perlu melibatkan ahli susur gua dan biota goa karst untuk memetakan kehidupan di gua bawah tanah.

"Karena ini menjadi penting, data krusial begitu, pemetaan gua bawah tanah itu menjadi salah satu yang penting. Lantas pendataan dengan perangkat geofisika itu menjadi penting. Minimal menjadi jelas bahwa kondisi yang sebenarnya itu seperti apa dan itu bisa diterima oleh semua pihak. Jadi pemetaan itu benar-benar  mencari data kondisi yang sesungguhnya kawasan karst Watuputih itu," jelas Ahli Geologi dan Kebencanaan, UPN Veteran Yogyakarta Eko Teguh Paripurna kepada KBR, Senin (3/4/2017).

Ahli Geologi  UPN Veteran Yogyakarta Eko Teguh Paripurna menambahkan, rencana untuk melakukan penelitian kembali kawasan karst Watuputih diharapkan bisa memberikan jawaban atas polemik ada tidaknya aliran sungai di dalam gua bawah tanah. Nantinya hasil penelitian itu harus bisa diterima semua pihak.

"Itu bagus juga kalau dilakukan pengkajian langsung  penelusuran dan pemetaan gua-gua yang ada sehingga posisinya menjadi terdatakan dan baik. Itu juga bisa menjadi contoh di tempat lain. Ketika akan dibuat menjadi KBAK (Kawasan Bentang Alam Karst). Ada upaya terbuka yang dilakukan oleh Badan Geologi," ungkapnya.

Eko menambahkan, dengan waktu 6 bulan yang disediakan sudah mencukupi untuk melakukan penelitian dengan luas sekitar 30 kilomete persegi.

"Menjadi jelas Kalau itu dilakukan, kalau diniatkan untuk itu, dengan waktu 6 bulan untuk mengcover dengan luasan 30 kilometer persegi. Ajak saja banyak kawan, gunakan alat-alat yang layak untuk kegiatan seperti itu," tambahnya.

Sementara itu Badan Geologi Kementerian ESDM akan melakukan penelitian dan pengkajian kembali kawasan karst Rembang di Kabupaten, Rembang, Jawa Tengah.  Hal itu dilakukan untuk meneliti kembali aliran air di bawah tanah yang berada di sekitar CAT Watuputih.

Menurut Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi Rudy Suhendar, tim yang bekerja selama 6 bulan itu nantinya akan meneliti lebih detil sedimen-sedimen dan sampel yang berkaitan dengan aliran air bawah tanah di sekitar CAT Watuputih. Kata dia, hasil penelitian ini nantinya akan lebih detil dan lengkap dari penelitian sebelumnya.

"Isu utamanya kan air, di sana ada mata air besar, di bagian timur ada beberapa mata air. Mata air itukan dari CAT Watu Putih berada di luar CAT Watu Putih, pada formasi batuan yang berbeda dengan CAT Watuputih," jelas Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi Rudy Suhendar kepada KBR, Senin (3/4/2017). 

Rudy melanjutkan, "air itulah yang menjadi permasalahan di masyarakat sehingga kita harus sedangkan yang akan dikorek-korek, yang akan ditambang itu kan CAT Watuputih. Sekarang hubungannya sumber air itu dari mana, berapa persen hubungannya nanti dengan CAT Watuputih."

Kata Rudy Suhendar, tim   beranggotakan 12 orang itu berasal dari internal Badan Geologi. Tim itu terdiri dari ahli geologi dan hidrogeologi. Nantinya juga tim itu akan dilengkapi dengan anggota dari luar yang memiliki kemampuan susur gua.

"Ahlinya itu ada, kalau ahli hidrobiologi itu. Jumlah total peneliti semuanya 12 dari Badan Geologi. Ada ahli geofisika, ada ahli hidrogeologi, ada ahli geologi. Nanti juga kita akan cari ahli dari luar yang bisa menyusuri gua," tambahnya.

Lebih lanjut Rudy menjelaskan, saat ini penentuan anggota tim sedang dilakukan. Termasuk juga pola kerja dan anggarannya. Sehingga dia belum mengetahui siapa-siapa saja yang akan masuk dalam tim kajian tersebut.

"Tim ini kan anggotanya cukup banyak, kita akan meneliti secara komperehensif, kita lebih puas dan secara akademis, data lapangan itu betul-betul data, jangan hanya katanya. Dalam rencananya mulainya, kita sudah mulai bekerja dari minggu ini persiapan lapangan, persiapan sumber daya manusia dan anggaran. Kalau persiapan tersebut sudah beres dalam satu dua minggu ini, kita akan masuk ke lapangan," ungkapnya.

Sebelumnya Badan Geologi  ESDM  menyatakan tidak menemukan aliran sungai dan gua bermata air di bawah karst Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Data penemuan itu diperoleh tim Badan Geologi Kementerian ESDM usai melakukan dua kali penelitian pada 15 - 24 Februari 2017 dan pada 8 - 28 Maret 2017.

Menurut Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Ego Syahrial, data sementara pada dua kali penelitian tersebut bukan sesuatu yang mutlak karena timnya akan melakukan kembali penelitian lanjutan.

"Kami akan mengirimkan tim yang lengkap maka dengan waktu enam bulan, saya rasa cukup ya karena sudah bisa mengerahkan tim yang lebih besar. Kalau kemarin kemarin kan cuman sembilan hari, memang keterbatasan waktu kita. Dengan tim yang kita turunkan (nanti) kita bisa mendapatkan data-data yang lebih konperhensif," kata Ego Syahrial kepada KBR melalui telepon, Senin, 3 April 2017.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Ego Syahrial menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan di kawasan CAT Batu Putih Rembang, tentang keberadaan gua bawah tanah berisikan mata air, ternyata sudah kering. Tetapi, hasil penyisiran tersebut kata Ego masih belum final dan masih mengumpulkan informasi dari mana pun untuk dilakukan penelitian lanjutan.

Ego menjelaskan, Badan Geologi Kementerian ESDM menerima informasi dari masyarakat terkait keberadaan aliran sungai dan gua bawah tanah.

"Nantinya kita akan melakukan penelitian secara geologi, geofisika, hydrologi dan hydro kimia karena kemarin kita hanya memakai data sekunder saja," ujar Ego.

KLHS Kendeng


Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyatakan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Rembang diuji komprehensif oleh tim ahli penjamin kualitas. Selain staf ahli geologi Kementerian ESDM, Surono, di jajaran tim penguji juga terdapat pakar lingkungan Universitas Diponegoro, Sudharto P Hadi.

Kata dia, tim bisa saja turun ke lapangan apabila dibutuhkan.

"KLHS itu ada dua kan timnya, tim KLHS yang ketuanya San Afri, kemudian ada 16 ahlinya, setelah selesai di tim ahli dan KLHS-nya final, masuk ke tim quality assurance. Sekarang lagi pembahasan oleh tim quality assurance, juga isinya para ahli juga. Dicek, mulai metodologinya, datanya, inventory-nya, parameter analisisnya, sampai ke hasil-hasilnya," kata

Siti tidak bisa memastikan kapan rekomendasi KLHS Rembang akan diumumkan. Kata dia, hal itu merupakan wewenang Kantor Staf Kepresidenan (KSP).

"Itu sudah urusan pak Teten,"

Pengujian dokumen KLHS oleh tim ahli yang diutus oleh Kantor Staf Kepresidenan akan rampung dalam 2 hari mendatang. Menurut anggota tim penguji KLHS, Surono, pengujian yang dilakukan selama dua hari ini hanya sebatas soal pengujian dokumen.

Kata dia, dokumen-dokumen dan laporan dalam KLHS akan diteliti kembali agar sesuai dengan kaedah penyusunan dokumen KLHS.

"Ya paling tidak sesuai dengan kaedah-kaedah KLHS. Seperti apa, saya tidak bisa mengatakan seperti apa, karena hasilnya juga belum selesai. Paling tidak yang bisa saya jamin KLHS dilakukan dengan baik. Mungkin hal-hal yang tertuang dalam tulisan, saya kira sudah on the track ya tidak masalah," jelas  Tim Ahli Penguji KLHS  dari KSP, Surono kepada KBR, Senin (3/4/2017)

Anggota Tim Ahli Penguji KLHS Rembang, Surono menambahkan, tim sudah mulai melakukan pengujian hari ini. Kata dia, tim ini nantinya akan memberikan penilaian kepada KSP apakah KLHS tersebut sudah sesuai atau tidak dengan kaedah penyusunan dokumen.

"Pengujian dokumen yang sudah ditulis dan data-data yang ada kemudian dituangkan dalam satu dokumen KLHS, itu yang kita nilai. (Tidak melakukan pengujian ke lapangan lagi?) Tidak, kita hanya mempelajari dokumen-dokumen saja, substansinya seperti apa, apakah sudah sesuai dengan kaedah KLHS," katanya.

Sebelumnya, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Teten Masduki menyatakan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Rembang sedang diuji tim penjamin kualitas. Kata dia, tim tersebut akan menguji KLHS yang telah disusun oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Strategis (KLHS). Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP nomor 46 tahun 2016). Teten memprediksi hasil pengujian tidak akan banyak berubah.


Editor: Rony Sitanggang 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Polda Papua Akui Belum Punya Data Soal Jenazah Martinus Beanal

  • Guru Honerer di Grobogan Tuntut SK Bupati
  • Jelang Pertunjukan Victoria Secret, Katy Perry dan Gigi Hadid Dilarang Masuk Cina
  • Album Taylor Swift, Reputation, Terjual 1.2 Juta Kopi di Pekan Pertama