Jembatan Cipamingkis di Jalan Raya Jonggol-Cariu, Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto: Rafik Maeilana


KBR, Bogor - Lima desa di Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat terisolir setelah jembatan Cipamingkis yang merupakan akses utama antara Bogor dan Cianjur hampir putus. Lima desa itu antara lain, Desa Balekambang, Sirnagalih dan Weninggalih. "Beruntung tidak ada korban jiwa. Hanya banjir, itu pun tidak terlalu mengganggu warga," kata Camat Jonggol, Beben Suhendar saat dihubungi KBR pada Jumat, 14 April 2017.

Tiang jembatan yang berada di Kampung Jagaita, Desa Jonggol ini bergeser akibat tergerus debit Sungai Cipamingkis yang meluap pada Kamis malam, 13 April 2017.  Beben menjelaskan, struktur jembatan yang dibangun 30 tahun lalu ini memang sudah cukup rawan. Hal itu ditunjukan hasil pemeriksaan 3 tahun lalu. Apalagi, jembatan Cipamingkis sering dilewati truk berbobot pasir dan batu.

"Memang kondisinya sudah harus diperbaiki. Tiga tahun lalu, kami sudah memeriksa dan tahun lalu Provinsi Jawa Barat sudah melakukan pengecekan. Katanya memang akan segera diperbaiki, tetapi sudah rusak duluan," jelasnya,

Dengan kondisi ini, jalur alternatif menuju Bandung dan Cianjur tidak bisa digunakan. Arus kendaraan roda dua dan empat dari Cileungsi akan diarahkan ke Cikarang dan kendaraan dari arah Cariu dialihkan ke Loji Karawang. "Sekarang kondisinya tidak bisa dilewati kendaraan jenis apapun. Kita mengalihkan kendaraan agar melewati Sukamakmur dan lainnya. Tetapi untuk desa yang terisolir, kami sekarang ini lagi bikin jembatan sementara agar bisa dilalui warga. Maksimalnya bisa dilalui sepeda motor," kata Beben. 

Perbaikan jembatan ini diperkirakan akan memakan waktu sekitar 6 bulan. Saat ini, Dinas Pekerjaan Umum beserta alat berat sudah berada di lokasi. (dmr) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!