90 Persen Impor, Menkes Bujuk Industri Tingkatkan Produksi Alat Kesehatan

"Bapak bayangkan kalau berjualan masker di Indonesia. Mikirnya harus begitu, Pak. Bapak pasti jadi konglomerat, yakin saya,"

Senin, 19 Mar 2018 11:46 WIB

Ilustrasi: Alat kesehatan (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta- Menteri Kesehatan Nila Moeloek membujuk pengusaha agar berinvestasi lebih besar pada industri alat kesehatan. Nila beralasan, 90 persen alat kesehatan di Indonesia merupakan produk impor karena produksi dalam negeri yang masih sangat sedikit.

Kata Nila, pasar alat kesehatan sangat besar, seiring dengan meningkatkan kepesertaan BPJS Kesehatan yang tahun ini mencapai 251 juta.

"Di sini masih didominasi lebih dari 90 persen oleh alat kesehatan impor. Artinya, ketergantungan kita masih besar. Misalnya, penderita TBC kita terbesar kedua di dunia, barangkali kita harus meminta pada yang batuk-batuk, tidak hanya yang TBC, pakai masker. Bapak bayangkan kalau berjualan masker di Indonesia. Mikirnya harus begitu, Pak. Bapak pasti jadi konglomerat, yakin saya," kata Nila di Balai Kartini, Senin (19/03/2018).

Nila mengatakan, pasar alat kesehatan akan terus bertambah pada tahun depan, karena terget kepesertaan mencapai 257,5 juta. Menurut Nila, kepesertaan yang meningkat tersebut harus dibarengi dengan ketersediaan alat kesehatan.

Pada tahun lalu pemerintah menganggarkan Rp12 triliun untuk belanja alat kesehatan, dan meningkat menjadi Rp17 triliun pada tahun ini. Sayangnya, kata Nila, anggaran alat kesehatan itu lebih banyak dinikmati industri luar negeri, karena harus diimpor, misalnya dari India.

Ia berkata, saat ini di Indonesia terdapat 242 industri alat kesehatan, yang memproduksi 294 jenis alat kesehatan. Alat kesehatan yang telah diproduksi di dalam negeri misalnya benang dan jarum bedah serta stent jantung.

Menurut Nila, pemerintah memang masih mengupayakan produksi alat kesehatan dasar, ketimbang alat berbasis teknologi seperti mesin terapi radiasi atau radioterapi. Kata Nila, pasar alat kesehatan dasar saja sudah sangat besar, seperti pinset dan gunting bedah, yang hingga kini juga masih impor.

Nila pun meminta para pengusaha agar membuat pinset dan gunting kesehatan berbagai ukuran. Pasalnya,   kebutuhannya selalu berbeda-beda, misalnya untuk bedah ortopedi yang berbeda dengan bedah mata.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi
  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial

Sumur Minyak Tradisional Terbakar, Puluhan Warga Aceh Timur Mengungsi

  • Polisi Masih Selidiki Kebakaran Sumur Minyak di Aceh
  • Pemerintah Hong Kong Janji Bantu Indonesia Ungkap Kasus Bank Century
  • Dortmund Pertimbangkan Gunakan Jasa Arsene Wenger

Anda berencana ke luar negeri? Ingin beli oleh-oleh, tapi takut kena pajak? Pada 1 Januari 2018, pemerintah menerbitkan regulasi baru untuk impor barang bawaan penumpang dan awak sarana pengangkut.