Penembakan di Yapen, Kemenko: Kriminal dengan Bukti Uang 140 Juta Rupiah

"Jadi memang track record-nya keliatan memang kriminal, tapi dimanfaatkan oleh ULWMP"

Selasa, 28 Mar 2017 14:38 WIB

Kepolisian menunjukkan barang bukti penyergapan Michael Marani di Kabupaten Yapen, Papua. (Foto: KBR/Katharina L.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam) menyatakan penembakan terhadap Michael Marani tidak ada hubungannya dengan Gerakan Bersatu Pembebasan Papua Barat (ULMWP). Deputi Bidang Koordinasi Politik Dalam Negeri Kemenko Polhukam Yoedhi Swastono mengatakan, Michael meninggal dalam kontak senjata dengan tim gabungan Polres Kepulauan Yapen.

Kata dia, Michael selama ini menyandang status sebagai buronan  karena kasus kriminal biasa yang tidak berkaitan dengan aktifitas ULMWP. Namun, ia mengaku tidak mengetahui kasus kriminal yang dimaksud. Yoedhi menduga kasus Michael ini dimanfaatkan oleh ULMWP untuk menyalahkan pemerintah.

"Dan ternyata yang bersangkutan itu kan membawa senjata. Akhirnya terjadi kontak tembak, kalau dia menyerah dengan sukarela, pasti akan diproses hukum seperti biasa. Justru karena melakukan perlawanan bersenjata," kata Yoedhi ketika dihubungi KBR, Selasa (28/3/2017). 

Yoedhi melanjutkan, "kan ada bukti, ada uang sekian puluh juta, 140 juta sekian, tidak akan mungkin di sana tanpa ada aktifitas sehingga mempunyai uang sedemikian banyak. Jadi memang track record-nya keliatan memang kriminal, tapi dimanfaatkan oleh ULWMP, itu asumsi kita."

Yoedhi menambahkan,  Kementerian Luar Negeri juga telah menyampaikan pernyataan bahwa penembakan Michael tidak berkaitan dengan ULMWP. Ia menyebut strategi yang dipakai gerakan tersebut merupakan hal yang lumrah untuk kepentingan propaganda.

"Biasalah di dalam propaganda itu menggunakan apa pun juga untuk kepentingan, itu hal yang lumrah, maka kita memberikan data yang sebenarnya terjadi. Tidak ada motif apa-apa."

Menurut informasi dari Polres Yapen yang disampaikan Yoedhi, kontak senjata dengan Michael Merani terjadi pada Senin, 27 Maret 2017 pukul 00.45 WIT. Dari kontak senjata yang dipimpin langsung oleh Kapolres Yapen, aparat menemukan barang bukti di antaranya uang sebanyak 140.200.000, 1 pucuk senpi laras panjang, 9 buah magazine, 1 buah bendera bintang kejora, dan ratusan butir amunisi.

Kronologi Versi Kerabat

Keluarga siang tadi memakamkan jenazah Michael Merani. Martin Manggaprow kerabat Michael  mengatakan, jenazah  sudah diserahkan kepada keluarga pada Senin, 27 Maret 2017, pukul 20.00 waktu setempat. Saat itu, kata Martin, jenazah itu sudah terbungkus dalam peti dan keluarga tak diizinkan melihatnya.

"Ya, dalam beberapa kasus di Serui penembakan mati, polisi biasanya sudah siapkan peti jenazah, dan keluarga tidak boleh tengok. (Keluarga berencana mengautopsi?) Rencananya seperti itu. Tetapi apakah pelakunya bisa dihukum atau tidak? Mereka bilang bahwa kan sudah jelas yang menembak aparat kepolisian, terus kemudian apa yang dicari tahu?" kata Martin kepada KBR, Selasa (28/03/17).

Martin mengatakan, setelah menerima jenazah, keluarga langsung menyemayamkan  di Pantai Utara Kepulauan Yapen. Kata dia, tak ada keluarga yang menyaksikan jenazah Michael sebelum dimakamkan secara adat.

Martin berujar, peristiwa itu terjadi pada Senin, 27 Maret 2017 sekitar pukul 1 dini hari waktu setempat. Saat itu, Michael yang tengah menggendong anaknya, duduk di beranda rumah mertuanya bersama seorang saudaranya di Kampung Kontiunai, Distrik Angkaisera, Kepulauan Yapen. Secara tiba-tiba, datang sekitar 20 orang polisi dan tentara menggunakan 7 mobil  dan langsung melepaskan tembakan. 

Martin berkata, saat itu, saudara Michael dengan sigap berlari ke arah dapur dan keluar melalui pintu belakang rumah. Adapun Michael, sempat berhenti sebentar di dalam rumah untuk meletakkan anaknya di kamar, sebelum akhirnya menyusul keluar melalui pintu belakang. Saat di pintu belakang, sang saudara sudah dipukuli polisi dan Michael langsung ditembak   hingga tewas. Menurut Martin, para polisi dan tentara itu membungkus kepalanya dengan topeng.

Martin membantah dalam peristiwa itu Michael melawan polisi dan terjadi baku tembak. Menurut dia, Michael tak sempat mengambil senjata dan langsung diberondong tembakan oleh tim gabungan tersebut. Setelah itu, jenazah dimasukkan ke dalam mobil dan polisi mengambil beberapa barang Michael dari rumah, seperti senjata dan sejumlah uang.

Setelah peristiwa penembakan itu, kata Maryin, orang tua Michael dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi hingga pukul 20.00 waktu setempat, berbarengan dengan pemulangan jenazah Michael. Adapun saudara Michael yang menjadi saksi penembakan dan turut dipukul polisi, hingga saat ini masih trauma.

Editor: Rony Sitanggang

 
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!