Pembubaran Aksi di Kedubes Arab Saudi, Koalisi Perempuan: Aparat Ingkari Kesepakatan!

Sebelum menggelar aksi, mereka menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah petinggi Kepolisian Jakarta. Dalam rapat tersebut, polisi mengizinkan aksi unjuk rasa dilakukan di depan Kedutaan.

Kamis, 02 Mar 2017 17:47 WIB

Sejumlah aktivitis pembela buruh bigran Indonesia menggelar aksi di sekitar kawasan Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta, Kamis (2/3/2017). (Foto: ANTARA)


KBR, Jakarta - Koalisi LSM Perempuan mengecam tindakan represif aparat kepolisian yang membubarkan aksi unjuk rasa di depan Kantor Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta pada hari ini.

Salah satu perwakilan koalisi, Nisa Yura mengatakan tindakan aparat kepolisian itu mengingkari kesepakatan yang telah dibuat aparat dengan Koalisi LSM pada Rabu (1/3/2017) malam.

Nisa menjelaskan, sebelum menggelar aksi, mereka telah menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah petinggi Kepolisian Jakarta. Dalam rapat tersebut, polisi mengizinkan aksi unjuk rasa dilakukan di depan kantor Kedutaan Besar Arab Saudi.

"Jauh hari sebelum aksi ini, kami juga telah mengirimkan surat pemberitahuan mengenai aksi ini. Namun yang terjadi, polisi justru membubarkan secara paksa aksi diam yang kami lakukan," kata Nisa ketika ditemui di Kantor LBH Jakarta, Kamis (2/3/2017).

Baca juga:


Nisa mengatakan Koalisi LSM Perempuan akan bertemu untuk mengambil langkah-langkah menyikapi tindakan represif aparat kepolisian itu.

"Kalau konsolidasi biasanya kami akan membicarakan soal strategi. Nanti bisa disimpulkan, apa yang bisa kami lakukan selanjutnya. Apakah kami mendorong suatu kebijakan, apakah kita melakukan protes lanjutan, atau bahkan apakah kami akan menyurati presiden untuk bertemu. Intinya kami ingin pemerintah menyoroti persoalan (buruh migran ini) sebagai permasalahan yang besar," kata Nisa Yura.

Siang tadi, puluhan orang dari sejumlah LSM, menggelar aksi unjuk rasa diam di depan Kantor Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta.

Aksi damai tersebut berisi tuntutan kepada pemerintah Arab Saudi agar membebaskan sebanyak 25 orang buruh migran Indonesia yang ditahan di Arab Saudi. Di antara TKI yang ditahan Arab Saudi adalah Rusmini, Sumartini dan Warnah.

Aksi itu dilakukan bertepatan dengan kunjungan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud ke Indonesia.

Namun, aksi itu dibubarkan secara paksa oleh aparat kepolisian. Belasan pengunjuk rasa juga sempat digelandang ke dalam mobil polisi, sebelum akhirnya dilepaskan.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Disebut Dukung HTI, Menpora Segera Panggil Adhyaksa

  • Diprotes Imvestor, Presiden Sentil 2 Menteri
  • KPPU: 5 Perusaah Atur Tata Niaga Beras di Sejumlah Provinsi
  • Indonesia Gandeng Azerbaijan Buat Pusat Pelayanan Terpadu

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.