Pegawai KPK: Berdoa, Satu-satunya Jalan untuk Ungkap Kasus Novel

"Biar Allah yang menggerakkan para pemimpin-pemimpin di negeri ini biar mereka terbuka hatinya untuk menegakkan kebenaran,"

Jumat, 23 Feb 2018 10:24 WIB

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan (kanan) didampingi Wakil Ketua Wadah Pegawai (WP) KPK Harun Al Rasyid (tengah), Penasehat Hukum Novel Baswedan Saor Situmorang (kiri) memberikan keterangan pers seusai kedatangan Novel di gedung K

KBR, Jakarta - Pegawai KPK merasa putus asa dengan pengungkapan peristiwa teror terhadap penyidik senior, Novel Baswedan. Ketua I Wadah Pegawai KPK Herry Nurudin, hal ini lantaran berbagai upaya telah dilakukan untuk mendorong agar aparat kepolisian mengungkap peristiwa ini. Menurut Herry, satu-satunya cara agar kasus itu terungkap, ialah dengan memanjatkan doa kepada Tuhan yang Maha Esa.

"Kami sudah melakukan berbagai upaya. Kebenaran itu diungkapkan, ditegakkan. Tapi kan para pemimpin di negeri ini belum terbuka hatinya untuk mengungkapkan mana yang benar. Ya kita berdoa. Sebagai manusia kalau ikhtiarnya sudah maksimal, bahkan kami juga sudah mengirimkan surat kepada presiden, tapi ternyata belum ada progres yang berarti ya kita jangan lagi berharap kepada manusia. Berharapnya kepada Allah, kita berdoa. Biar Allah yang menggerakkan para pemimpin-pemimpin di negeri ini biar mereka terbuka hatinya untuk menegakkan kebenaran," katanya.

Selain itu Herry juga meminta agar masyarakat yang mendukung perjuangan Novel Baswedan mendukung upaya yang sama, yakni berdoa supaya kasus Novel bisa terungkap. Sebab kata dia, polisi--selaku institusi penegak hukum dianggap setengah hati dalam mengungkap kasus yang telah 10 bulan berlalu itu.

Meski begitu, Penyidik senior KPK Novel Baswedan mengatakan  masih mempercayakan proses penyidikan kasus penyerangan terhadap dirinya kepada kepolisian. Menurut dia, idealnya penyidikan itu sejalan dengan upaya Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

Soal rencana pemanggilan ulang oleh polisi, Novel mengatakan akan menunggu masukan dari Komisi Pemberantas Korupsi.

"Nanti kita lihat ya. Nanti saya kira banyak yang mengkaji. Dari KPK pasti ada masukan seperti apa," ujar Novel saat ditemui di kawasan rumahnya, Kamis (22/2).

Kepolisian sudah pernah meminta keterangan Novel Baswedan ketika masih menjalani perawatan di Singapura. Namun Juru Bicara Polda Metro Jaya Argo Yuwono  menyebut ada rencana pemanggilan ulang. Novel sendiri mengaku tak tahu keterangan apa lagi yang ingin didalami polisi darinya.

"(Pemeriksaan terhadap Anda masih diperlukan?) Kok tanya saya? Kebalik."

Penjagaan

Pasca kepulangan, pengamanan di rumah Novel Baswedan diperketat. Kepala Biro Umum KPK Syarief Hidayat mengatakan KPK menurunkan sejumlah petugas  yang akan berjaga 24 jam hingga seminggu ke depan. KPK dan keluarga sudah menyepakati untuk membatasi jam besuk Novel.

"Novel akan menerima tamu cuma dari Ashar sampai Maghrib. Kami tadi sudah sepakat, keluarga juga sudah sepakat. Ashar sampai Maghrib aja terima tamunya. Jadi di luar itu, pengamanan akan tolak," kata Syarief di kawasan rumah Novel, Kamis (22/10).

Di luar itu, tamu diizinkan masuk jika sudah ada janji khusus dengan Novel. Itu pun harus melalui petugas kemanan dan persetujuan keluarga. Menurut Syarief,   belum ada kabar dari polisi terkait rencana pemanggilan ulang.

Pengamanan di kawasan sekitar rumah Novel juga dibantu oleh Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah. Ketua Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar menyebut ada sekitar 30 orang yang disiagakan di rumah Novel sejak kemarin siang.

KPK juga menambah jumlah kamera pengawas. Syarief tidak menyebut berapa tambahan kamera yang diberikan di dalam rumah Novel. Di samping itu, KPK juga mengganti kamera pengawas yang sudah ada.

Di sepanjang jalan depan rumah Novel, tampak ada 4 kamera pengawas. Dua kamera juga tampak di sepanjang jalan.

"Masjid setelah kejadian Novel mereka sudah langsung pasang CCTV. Kita sama masjid sudah kerjasama."

Status Novel

Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah menegaskan Novel Baswedan akan tetap bertugas di posisi semula sebagai Kepala Satgas Direktorat Penyidikan.

"Memang tidak ada perubahan, rencana perubahan juga tidak (ada). Jadi posisi Novel di Direktorat Penyidikan. Di struktur yang terbaru, Novel masih Kepala Satgas di Direktorat Penyidikan. Untuk struktur itu kan, sudah disepakati di dalam, sesuai dengan mekanisme yang ada di kita. Pembicaraan juga saya rasa belum ada. Jadi isu-isu, pertanyaan-pertanyaannya itu saya kira nggak ada pembicaraan itu," kata Febri di KPK, Kamis (22/2/2018).

Terkait kesehatan Novel, Febri menyampaikan keyakinannya, bahwa mata Novel akan kembali pulih sehingga tidak menghalangi tugasnya sebagai penyidik. Febri mengutip informasi dari dokter yang menangani Novel di Singapura, yang menyatakan banyak kasus kerusakan mata yang lebih parah. Tetapi sebagian besar kasus tersebut bisa disembuhkan.

"Nanti tergantung dokter merekomendasikan soal kapan mulai bekerja. Proses pemulihan kan sedang berjalan saat ini. Saya kira, sepanjang bisa mengerjakan tugas, dan kalau melihat kondisi Novel, setelah penglihatan baik, tentu seluruh tugas bisa dilakukan," ujar bekas Koordinator ICW ini.

Setelah sepuluh bulan menjalani perawatan untuk kerusakan matanya, penyidik senior KPK Novel Baswedan kembali ke Indonesia. Dia mengatakan sudah siap kembali ke Indonesia setelah mendapat izin dari dokter yang merawatnya di Singapura. Setiba di Indonesia, Novel langsung menyambangi KPK. Di sana, ia berharap kejadian yang menimpanya bisa mencambuk penyidik lainnya untuk semakin berani memberantas korupsi.


Editor: Rony Sitanggang

 

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Seberapa besar ketertarikan generasi milenial terhadap koperasi di Indonesia saat ini?