Pelaku Bom Cicendo Bandung Jadi Pemasok Senjata Api dan Peluru

Yayat pernah terlibat perampokan di SPBU Kali Asin, Cikampek, pada 2009 lalu. Uang hasil perampokan itu digunakan untuk membeli logistik dan persenjataan pelatihan militer di Aceh.

Selasa, 28 Feb 2017 15:36 WIB

Aparat kepolisian bersenjata lengkap berjaga di Kantor Kelurahan Arjuna, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (27/2/2017). (Foto: ANTARA)


KBR, Jakarta - Pelaku peledakan bom panci rakitan di lapangan Pandawa, Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Bandung, Jawa Barat, Senin (27/2/2017) pernah ikut berperan dalam kegiatan pelatihan perang atau pelatihan militer di Aceh pada 2010 lalu.

Juru bicara Mabes Polri Boy Rafli Amar mengatakan pelaku bernama Yayat Cahdiyat alias Abu Salam itu berperan sebagai supplier atau pemasok logistik pelatihan militer.

"Yayat atau Abu Salam juga orang yang mempunyai peran dalam proses penyedian logistik. Seperti penyiapan (mulai) dari senjata api dan peluru yang antara lain didapat dari Bandung, dan beberapa dari senjata rakitan," kata Boy Rafli di Mabes Polri, Selasa (28/2/2017).

Baca juga:


Boy menambahkan Yayat pernah terlibat perampokan di SPBU Kali Asin, Cikampek, pada 2009 lalu. Uang hasil perampokan itu digunakan untuk membeli logistik dan persenjataan pelatihan militer di Aceh.

"Menurut mereka (hasil rampokan) halal digunakan untuk aksi teror," kata Boy.

Yayat pernah divonis hukuman tiga tahun penjara atas kasus pelatihan militer di Aceh pada 2012. Namun karena ada keringanan hukuman, Yayat keluar penjara pada 2014. Setelah bebas Yayat bergabung dengan Jamaah Ansharu Daulah (JAD).

"Dalam masa bebasnya ini yang bersangkutan kembali beraktivitas terutama bergabung dengan JAD," ujar Boy.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah memasukkan nama organisasi Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Indonesia yang dipimpin Aman Abdurrahman sebagai organisasi teroris. Aman Abdurrahman saat ini dipenjara di Nusakambangan, Jawa Tengah.

Menurut Kemenlu Amerika Serikat, JAD merupakan kelompok teroris yang berbasis di Indonesia yang dibentuk pada 2015 lalu. Kelompok JAD merupakan penyatuan dari sejumlah kelompok radikal di Indonesia yang mendukung ISIS. JAD merupakan kepanjangan tangan dari ISIS untuk rekrutmen anggota dan pendanaan.

JAD terlibat dalam serangkaian teror termasuk bom di Gereja Oikumene Samarinda, pada November 2016.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!