Presiden Joko Widodo dalam acara di Istana Negara, Jumat (17/2/2017). (Foto: ANTARA)


KBR, Jakarta - Presiden Joko Widodo menyatakan praktik demokrasi di Indonesia sudah kebablasan. Ia mengatakan bentuk demokrasi ini bisa berpotensi memunculkan idelologi politik ekstrim.

Jokowi menyebut bentuk nyata praktik demokrasi kebablasan ini tampak dari maraknya politisasi SARA yang terjadi lima bulan terakhir.

Jokowi menegaskan, penegakan hukum yang tegas menjadi kunci untuk mengatasi demokrasi yang kebablasan itu.

"Praktik demokrasi politik yang kita laksanakan telah membuka peluang terjadinya artikulasi politik yang ekstrem seperti liberalisme, radikalisme, fundamentalisme, sektarianisme dan terorisme. Serta ajaran yang lain yang bertentangan dengan ideologi kita, Pancasila. Dan penyimpangan praktik demokrasi itu, mengambil bentuk nyata, seperti yang kita lihat akhir-akhir ini, politisasi SARA," kata Jokowi saat berpidato di acara pengukuhan DPP Partai Hanura di Sentul, Bogor, Rabu (22/2/2017).

"Kuncinya dengan demokrasi yang sudah kebablasan adalah penegakan hukum. Aparat hukum harus tegas, tidak usah ragu-ragu," lanjutnya.

Jokowi meyakini kondisi demokrasi Indonesia yang kebablasan saat ini merupakan ujian bagi bangsa. Jokowi menegaskan bangsa Indonesia masih bersatu. Ia meyakini ujian ini akan bisa dilalui dan justru memperkuat bangsa Indonesia ke depan.

"Akan menjadikan kita semakin dewasa, akan menjadikan kita semakin matang, akan menjadikan semakin tahan uji, bukan justru melemahkan," tuturnya.

Jokowi mengingatkan agar hiruk pikuk politik saat ini jangan sampai mengalihkan dari fokus utama yakni untuk menyejahterakan rakyat.

"Jangan sampai kita lupa, terus menerus berurusan dengan hal-hal seperti dalam 4-5 bulan ini yang kita hadapi sehingga energi kita habis dan lupa dengan masalah ekonomi kita," ujar Jokowi.

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!