Ini Alasan Santunan Korban Crane di Mekkah 2015 Berlarut-larut

Santunan bagi korban jatuhnya crane di Mekah pada September 2015, baru akan dibayarkan setelah semua negara menyelesaikan data warganya.

Minggu, 26 Feb 2017 17:23 WIB

Kepulangan jemaah haji embarkasi Palembang. Foto: ANTARA.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta - Santunan bagi korban jatuhnya crane di Mekah pada September 2015, baru akan dibayarkan setelah semua negara menyelesaikan data warganya. Juru Bicara Kementerian Agama, Mastuki, mengaku tidak mengetahui alasan di balik kebijakan pemerintah Arab Saudi tersebut. Meski, kebijakan itu dinilai membuat pembayaran santunan berlarut-larut. Kata dia, saat ini penanganan korban crane termasuk ganti rugi, ataupun besaran santunan tengah diproses oleh tim yang diketuai Gubernur Madinah, Faisal Bin Salman.

"Penanganan korban crane memang diperuntukan bagi semua korban. Dan akhirnya memang jadi berlarut-larut, dan pemerintah Saudi baru menginformasikan bahwa itu sedang diproses oleh tim yang diketuai Gubernur Madinah," ungkapnya kepada KBR, Minggu (26/2/2017)

Sebelumnya, Pemerintah Arab Saudi berjanji memberikan santunan kepada keluarga korban kecelakaan robohnya crane di Masjidil Haram, Mekah, pada musim haji dua tahun lalu. Setiap korban meninggal atau cacat seumur hidup mendapatkan santunan 1 juta riyal atau Rp3,8 miliar, sedangkan korban luka diberikan biaya 500 ribu riyal atau Rp1,9 miliar.

Indonesia, kata Mastuki, sudah melengkapi data-data korban di tahun yang sama dengan peristiwa tersebut. "Pada tahun bersamaan dengan crane itu sudah dimasukan data-data itu."

Sementara itu, terkait kedatangan Raja Arab Saudi ke Indonesia, awal bulan depan, Mastuki berujar tidak ada pembicaraan khusus terkait persoalan korban crane. Kemenag, hanya akan membicarakan kerjasama keislaman.

"Kemenag hanya diminta untuk mendampingi presiden untuk bertemu dengan tokoh-tokoh agama di Bogor, kedua menemani Raja Salman ke istiqlal, dan ketiga penandatangan MoU tentang wakaf tentang urusan-urusan Islam," ujarnya.



Korban Crane di Padang Tagih Janji

Korban jatuhnya crane di Mekah Arab Saudi, Zulfitri Zaini (58), kecewa lantaran belum menerima asuransi dan santunan dari Pemerintah Arab Saudi. Jemaah haji asal Kabupaten Solok, Sumatera Barat, ini meminta Pemerintah Arab Saudi bertanggungjawab atas kecelakaan yang menyebabkan kaki kanannya diamputasi.

Zulfitri mengatakan, ia hanya mendapat asuransi dari Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Agama sebesar Rp 7.400.000 saja. Menurutnya, itu tidak cukup untuk menutupi biaya operasi dan rawat jalan yang ia jalani.

"Pulang dari Arab Saudi kadang-kadang saya rawat jalan, cuma itu operasi dan buka pen sudah dua kali. Kalau dana kadang-kadang saya nggak tahu hitungannya. Kadang-kadang kalau ke Rumah Sakit kan ada BPJS. Tapi kalau tambahan obat dari luar contohnya seperti beli kaki, saya juga banyak beli obat-obatan dari Cina karena masih luka," kata Zulfitri kepada KBR, Minggu (26/02/17).

Zulfitri menjelaskan, operasi pertama dilakukan untuk mengeluarkan pen yang di pasang pada pergelangan tangan sebelah kiri. Kedua yakni operasi akibat tumbuhnya benjolan di pada bekas luka pada bagian lengan. Selain itu, ia juga harus membuat kaki palsu dengan biaya sebesar Rp 28.500.000.

"Tiga tahun saya harus mengangsur itu semua," ujarnya.

Ia berharap, kedatangan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud, ke Indonesia salah satunya untuk menepati janji kepada korban jatuhnya crane di Mekah. Pemerintah Arab Saudi sebelumnya berjanji memberikan asuransi dan santunan sebesar 1 juta Riyal sekitar Rp 3,8 miliar kepada korban.

"Harapannya diberi bantuan dengan janji-janjinya yang diberikan kepada korban musibah ini," harap Zulfitri.




Editor: Quinawaty 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!