Ingin Menyantap Cacing Laut? Perayaan Bau Nyale di Lombok Dihadiri Ribuan Orang

"Perayaan Bau Nyale ada penyamo atau memberi tahu masyarakat akan datang Nyale itu. Ada atau tidak adanya nyale, itu tidak terlalu menjadi ikatan warga Sasak untuk datang"

Jumat, 17 Feb 2017 17:23 WIB

Cacing laut atau nyale hasil tangkapan warga di pantai Seger, Kabupaten Lombok Tengah. (Foto: KBR/Zaenudin S.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Mataram- Perayaan pesona Bau Nyale dipusatkan di pantai Seger Kabupaten Lombok Tengah dan dipadati oleh ribuan masyarakat Lombok sejak Kamis (17/02) malam. Namun, sayangnya nyale atau cacing laut sudah keluar sejak hari Rabu lalu, sehingga jumlah nyale yang keluar pada puncak  perayaan sudah minim.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lombok Tengah   Lalu Putria di pantai Seger mengatakan, meski nyale yang keluar sedikit, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah membantah jika panitia salah memprediksi tanggal keluarnya nyale tersebut. Putria mengatakan, penentuan tanggal bau nyale ini dengan melibatkan beberapa tokoh masyarakat salah satunya tokoh yang ahli dalam bidang kelautan.

Kata dia, beberapa tanda-tanda alam juga dijadikan sebagai isyarat akan datangnya nyale tersebut seperti hujan serta angin.

“Jadi dalam budaya Sasak itu, nyale itu ada dua jenis. Yaitu nyale poto (ujung) dan nyale tunggak ( pangkal). Dalam perayaan Bau Nyale ada penyamo atau memberi tahu masyarakat akan datang Nyale itu. Ada atau tidak adanya nyale, itu tidak terlalu menjadi ikatan warga Sasak untuk datang ke sini karena tidak semua mereka tangkap nyale,” kata Putria, Kamis (17/02 ) malam.

Diterangkan Putria, kedatangan masyarakat ke acara puncak perayaan bau nyale ini tidak saja ingin menangkap nyale tersebut, tapi juga berlibur. Nyale tidak saja enak dimakan, namun masyarakat Lombok juga memanfaatkan nyale tersebut sebagai obat.

Perayaan bau nyale di masyarakat Lombok berawal dari legenda Putri Mandalika yang menceburkan diri ke laut karena tidak mampu memilih satu di antara beberapa pangeran yang akan meminangnya. Setelah sang putri menceburkan diri ke laut, muncullah hewan laut berbentuk cacing yang kini disebut sebagai nyale. Perayaan bau nyale dilakukan  berdasarkan kalender Sasak.

Editor: Rony Sitanggang


  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Jumlah Napi Narkoba Kian Bertambah, Menteri Yasonna Akui Kewalahan

  • Erupsi Gunung Sinabung Abu Vulkanik Capai 3,2 KM
  • Uni Eropa Ajak Suu Kyi Negosiasi soal Rohingya
  • Marquez Diisukan Gantikan Rossi di Yamaha

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau