Dituding Antasari, SBY Minta Kasus Dibuka Lagi

"Saya tidak pernah mempengaruhi polisi, jaksa, atau hakim dalam kasus tersebut,"

Selasa, 14 Feb 2017 22:35 WIB

Presiden ke-6 RI yang juga Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memberikan keterangan pers di kediamannya di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (14/2). (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Bekas Presiden SBY meminta kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen yang menyeret bekas ketua KPK Antasari Azhar dibuka kembali. Hal ini SBY nyatakan seusai Antasari menyebut SBY mengetahui rekayasa kasusnya pada 2009 lalu.

Kata SBY, kasus itu masih bisa dibuka kembali mengingat para penegak hukum yang menangani kasus itu masih ada.

"Saya kita para penegak hukum yang memproses kasus Antasari masih ada," terangnya di rumahnya di Kuningan Jakarta, Selasa (14/2/2017) malam.

"Penyelidik dan penyidik kepolisian masih ada, mantan kapolrinya masih ada. Penuntut, jajaran kejaksaan, masih ada. Mantan Jaksa Agungnya masih ada. Pemutus tuntutan, majelis hakim, saya kira juga masih ada," tandasnya.

Baca: Antasari Minta SBY Jujur

SBY mengatakan tidak mengetahui bagaimana mekanisme hukum untuk membuka kasus itu kembali. Namun kata dia proses hukum kasus tersebut telah berjalan secara transparan dan akuntabel.

"Saya tidak pernah mempengaruhi polisi, jaksa, atau hakim dalam kasus tersebut," paparnya.

Dalam tweet-nya di @SBYudhoyono, dia menyebut pernyataan Antasari hanyalah fitnah dan upaya mendiskreditkan dirinya.

Sebelumnya bekas Ketua KPK Antasari Azhar menyatakan SBY mengetahui rekayasa kasusnya. Dia bahkan menyebut SBY mengutus Bos MNC media Harry Tanoesoedibjo dan meminta Antasari tidak melanjutkan kasus Aulia Pohan, besan SBY. Saat itu Aulia Pohan menjabat sebagai gubernur BI dan terlilit kasus aliran dana.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

HNW Sarankan Masyarakat Gugat UU Pemilu ke MK

  • Diskusi Karya Enny Arrow di Semarang Dilarang Polda Jateng
  • Persiba Dukung Wasit Asing di Liga 1
  • Rafinha Berambisi Jadi Suksesor Lahm

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.