Warga menerobos banjir di Jl Gunung Sahari Raya, Jakarta, Selasa (21/2/2017). (Foto: ANTARA)


KBR, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut perluasan ruang hijau di Jakarta sulit direalisasikan.

Kepala BNPB Willem Rampangilei mengatakan ibukota sudah sesak dengan bangunan, dan tidak ada lagi tempat untuk penghijauan. Apalagi, kata dia, setiap tahunnya tanah di Jakarta mengalami penurunan.

"Di Jakarta terjadi penurunan muka tanah. Tiap titik tidak sama. Ada (penurunan tanah) 10 cm itu pertahun di Jakarta Pusat. Itu yang saya dapat di Kementerian PU," ujarnya kepada KBR di Jakarta, Rabu (22/2/2017).

BNPB mencatat, Jakarta mempunya daya tahan tampung air hanya 15 persen saja. Sisa air lainnya, kata Willem, akan mengalir ke daerah yang lebih rendah. Hal ini diperparah dengan drainase (saluran air) yang tak lancar, banyaknya sampah dan sungai yang semakin menyempit.

"Jadi saya bicara daya tampung, dia (air) di tahan oleh DAS.Ttapi kan kita daya tahannya tinggal 15 persen untuk Jakarta, 85 persen dia (air) ke tempat yang lebih rendah," kata Willem.

Baca juga:


Willem menilai kota Jakarta mirip dengan kota di Belanda, yakni sama-sama berada di bawah permukaan air. Karena itu, Willem mengatakan satu-satunya cara mencegah banjir Jakarta adalah dengan menggunakan teknologi ala Belanda untuk memperbaiki saluran air dan menambah pasokan pompa air di sungai-sungai.

"Pendekatan teknologinya, ya harus belajar dari Belanda. Dia kan negeri di bawah permukaan air laut. Situasi ini bukan tidak bisa diatasi, bisa. Satu dengan teknologi, kedua perilaku masyaratnya pun harus berubah dong," ujarnya.

Rabu (22/2/2017) kemarin BNPB merilis ancaman bencana yang diprediksi besar terjadi di tahun 2017.

BNPB menyatakan sebanyak 136 kabupaten/kota di Indonesia masuk dalam daerah rawan bencana. Dengan rincian ancaman bencana banjir berada di 315 daerah, dengan jumlah penduduk yang terdampak mencapai 63,7 juta jiwa.

BNPB juga menyebutkan ancaman bencana longsor terdapat di 73 kabupaten/kota mulai dari, level tinggi sampai rendah.

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!