Ketua GNPF-MUI Bachtiar Nasir (kanan) didampingi pengacaranya Kapitra Ampera, ketika mendatangi Bareskrim Mabes Polri, Jumat (10/2/2017). (Foto: ANTARA)


KBR, Jakarta - Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI Bachtiar Nasir mengaku jumlah dana yang masuk ke rekening Yayasan Keadilan Untuk Semua (YKUS) untuk mendanai Aksi Bela Islam berjumlah Rp3 miliar.

Dana itu diklaim untuk membiayai Aksi Bela Islam II pada 4 November 2016 dan Aksi Bela Islam III pada 2 Desember 2016.

Bachtiar Nasir mengakui dana sejumlah Rp3 miliar itu masih tersisa. Namun dia membantah dana itu dialihkan ke rekening perorangan pengurus yayasan.

"Dana dipakai untuk konsumsi, untuk yang datang unjuk rasa, sebelumnya juga untuk korban-korban yang luka di aksi 411, untuk informasi, pasang spanduk baliho, operasional dan lain-lain. Sampai kemudian kita sumbangkan juga Rp500 juta ke Aceh dan Rp200 juta ke Sumbawa," kata Bachtiar usai pemeriksaan di Bareskrim, Jumat (10/2/2017).

Baca juga:


Dia tidak menjelaskan berapa sisa dana setelah penyelenggaraan dua aksi unjuk rasa tahun lalu. Namun, Bachtiar mengatakan sisa dana itu akan dipakai untuk membiayai aksi Sabtu (11/2/2017).

Hingga saat ini, kata Bachtiar, rekening itu masih menerima donasi untuk aksi 112.

Hari ini, Ketua GNPF-MUI Bachtiar Nasir diperiksa sebagai saksi untuk kasus dugaan tindak pidana pencucian uang. Penyidik kepolisian mencurigai ada pengalihan aset yayasan kepada pendiri, pengurus, atau penasehat yayasan.

Bachtiar mengakui bekerjasama dengan yayasan tersebut, meminjam rekening yayasan untuk menampung dana sumbangan masyarakat. Namun, ia mengklaim tidak terdaftar dalam struktur kepengurusan yayasan.

Yayasan Keadilan Untuk Semua tercatat menjadi salah satu nama yang didaftarkan dalam rekening penampung dana sumbangan aksi 212 Desember tahun lalu. Namun, catatan di situs Kementerian Hukum dan HAM , tidak ditemukan informasi mengenai yayasan tersebut.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!