Dicegat TNI di Bandara Soekarno-Hatta, Filep Karma Diinterogasi dan Dipanggil 'Monyet'

"Saya dipanggil monyet. Ya saya bilang, 'Terima kasih pak atas penghinaan yang dilakukan'," cerita Filep.

Rabu, 03 Jan 2018 13:38 WIB

Aktivis pro-kemerdekaan Papua, Filep Jacob Samuel Karma. Foto: KBR

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Bekas tahanan politik pro-kemerdekaan Papua, Filep Karma, dicegat keluar dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkarang, oleh lima petugas TNI Angkatan Udara. 

Kejadian itu terjadi Selasa (2/1/2017) malam, usai ia mengambil barang bagasi bandara. Filep baru saja tiba dari Yogyakarta menggunakan maskapai Lion Air.

Setelah dicegat, anggota TNI itu lantas memboyong Filep Karma ke salah satu ruangan ketika hendak keluar dari pintu A kedatangan. Menurut keterangan Filep, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 21.00 WIB. 

Di ruang itu salah seorang anggota TNI Angkatan Udara menunjuk pin kecil bergambar Bintang Kejora yang terpasang di dadanya. 

"Saya ditanyai macam-macam. 'Ini kan bendera OPM?' kata dia. Saya jawab 'bukan. Itu simbol saja'. Kalau bendera berdasarkan UUD 1945, terbuat dari kain berukuran 1x2 meter. Ini bukan bendera," cerita Filep Karma kepada KBR melalui sambungan telepon, Rabu (3/1/2017).

Merasa tak bersalah, ia kemudian menerangkan siapa dirinya. Bahwa dia adalah bekas tahanan politik yang mendekam di penjara selama 12 tahun. Filep juga mengutip perkataan bekas Menteri Politik Hukum dan Keamanan, Luhut Panjaitan yang memberikan jaminan kepadanya begitu keluar penjara November 2015 lalu. 

"Saya juga dapat jaminan dari Luhut Panjaitan, kalau Filep Karma itu mau teriak apa saja silakan. Dia berjuang dengan damai, tidak bawa bom. Tapi mereka ini enggak percaya," kata Filep.

Kesal karena Filep terus-terusan menyanggah dan menolak tudingan yang dilontarkan, anggota TNI AU marah. Salah seorang aparat itu membentak Filep Karma sembari memukul meja dan memaki.

"Saya dipanggil 'monyet'. Ya saya bilang, 'Terima kasih pak atas penghinaan yang dilakukan'," cerita Filep.

Filep Karma mengaku diinterogasi anggota TNI Angkatan Udara itu selama hampir dua jam. Setelah diinterogasi, ia kemudian diboyong oleh polisi menuju Porles Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang dan dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Di tengah proses BAP, seorang aktivis Civil Liberty Defender, Uchok Sigit Prayogi datang dan mendampingi Filep. Uchok menanyakan dasar pembuatan BAP hingga akhirnya polisi menghentikan pembuatan BAP. 

"Kasat Reserse tak bisa jawab pertanyaan Uchok, karena dia hanya menerima pelimpahan dari AURI. Akhirnya saya dilepas dan pulang," jelas Filep.

Sekitar pukul 00.30 WIB, ia pun dibebaskan. 

Baca juga:

Bisik-bisik di Pesawat

Filep Karma bebas dari Penjara Abepura Papua pada 19 November 2015. Pembebasan yang terjadi di awal masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo itu, menurut sebagian aktivis terkesan tergesa-gesa dan penuh paksaan. 

Ketika itu, Filep baru menjalani 12 tahun masa tahanan dari total 15 tahun. Ia mengaku sempat menolak permintaan keluar dari jeruji besi, karena bagi dia penjara sudah menjadi rumah keduanya itu. Filep menolak keluar karena merasa belum siap secara mental. 

Sejak bebas dari penahanan politik, Filep Karma kerap bolak-balik Jakarta-Papua. Di Ibukota, ia menemui beberapa sahabatnya dan tetap berkampanye tentang kemerdekaan Papua tanpa rasa takut. 

Di penerbangan yang kesekian kali itu, dari Yogyakarta menuju Jakarta, Filep duduk di bangku nomor 18. Ia sempat ke toilet pesawat yang berada di depan. Seorang penumpang melaporkan bahwa ada seorang yang memakai bendera OPM. Belakangan Filep mengetahui penumpang itu anggota TNI berpangkat kolonel.

"Jadi dari omongan antara Intel dan petugas AURI, keceplosan bahwa mereka menerima laporan dari seorang kolonel yang merupakan penumpang pesawat juga," kata Filep.

Ketika diinterogasi di Bandara Soekarno Hatta Tangerang, petugas TNI Angkatan Udara memojokkannya dengan menyebut-nyebut OPM. 

Filep Karma pun cepat menjawab, "Iya saya OPM. Saya tahanan politik," pungkasnya. "Akhirnya dikaitkan dengan penembakan TNI di Papua lah, segala macam," sambungnya.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman/Quinnawati Pasaribu.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.