Tiga Peserta Diksar Mapala UII Tewas, Rektor Minta Maaf

"UII minta maaf pada seluruh keluarga, peserta TGC Mapala UII dan Masyarakat luas. UII akan bertanggung jawab penuh usut kasus ini secara obyektif terbuka dan tuntas,"

Selasa, 24 Jan 2017 14:22 WIB

Rektor UII Harsoyo (batik biru) mendatangi Rumah Duka RS Bethesda dan berbincang dengan keluarga almarhum Ilham. (Foto: KBR/Eka J.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Yogyakarta- Rektor Universitas Islam Indonesia (UII)  Harsoyo meminta maaf menyusul insiden meninggalnya tiga mahasiswa kampus tersebut. Tiga mahasiswa UII meninggal dunia setelah mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) The Great Camping Mapala di Karanganyar 13-21 Januari 2017.

"UII minta maaf pada seluruh keluarga, peserta TGC Mapala UII dan Masyarakat luas. UII akan bertanggung jawab penuh usut kasus ini secara obyektif terbuka dan tuntas," kata Harsoyo, di sela pertemuan dengan keluarga almarhum Ilham Nur Padmi Listyadi di Rumah Duka RS Bethesda Yogyakarta, Selasa (24/1/2017).

Selain meminta maaf, ucapan bela sungkawa juga disampaikan rektor UII Harsoyo kepada Syafi'i, ayah Ilham dan keluarga besarnya yang menunggu selesainya rukti atau pengurusan jenazah. Harsoyo tinggal cukup lama bersama keluarga Ilham dan sesekali terlibat percakapan.

Dalam kesempatan tersebut, Harsoyo mengakui ada indikasi penganiayaan terhadap tiga mahasiswa UII Muhammad Fadli,  Syaits Asyam dan Ilham Nur Padmi Listyadi. Ketiganya meninggal dunia setelah dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan akibat dugaan penganiayaan berat.

"Hasil temuan awal tim investigasi internal UII sejak 21 Januari 2017, terdapat indikasi kekerasan yang dilakukan oknum tertentu selama TGC. Tim investigasi terus mencari fakta dan informasi. Apabila terbukti ada pelaku kekerasan akan ditindak tegas sesuai aturan di UII," papar Harsoyo.

Guna mengusut penyebab kematian ketiga mahasiswa, pihak kampus menyerahkan proses penyidikan ke kepolisian. UII juga membebaskan peserta maupun keluarga peserta TGC menempuh jalur hukum. Terkait hal ini pihak universitas menyatakan tidak akan menghalang-halangi proses hukum.

Sementara itu untuk mencegah dampak kekerasan yang lebih buruk pada peserta lainnya, UII melakukan komunikasi intensif dengan 34 peserta TGC. Seluruh peserta TGC lainnya diperiksa ulang kesehatannya secara menyeluruh di RS Jogja Internasional Hospital (JIH).

"Apabila ditemukan indikasi tidak wajar pada kondisi kesehatan peserta akan difasilitasi UII," tegasnya.

Syafi'i, ayah Ilham yang berada di dekat Harsoyo mengungkapkan kekecewaannya atas kematian putranya.

"Saya sangat terpukul. Saya sekolahkan anak saya di Jogja. Apalagi namanya Universitas Islam Indonesia. Saya berharap anak saya sholeh berbakti tapi di universitas ini malah jadi korban penganiayaan. Saya sayangkan. Saya minta Mapala dibekukan," pinta Syafii.

"Saya sangat alergi Mapala. Anak saya yang besar yang sudah tamat juga baru 8 tahun tamat kuliah karena Mapala. Saya salah pilih universitas. Saya harap proses hukum tetap dijalankan," kata Syafi'i. Syafi'i mengaku Ilham sempat menelepon dan mengatakan disiksa.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Pansus KPK Minta Bertemu untuk Rapat Konsultasi, Ini Tanggapan Jokowi

  • Kasus Palu Arit, Aktivis Tumpang Pitu Didakwa Langgar UU
  • Kloop: Masih Terus Kebobolan, Liverpool Akan Susah
  • Inggris Tangkap Tersangka Ketiga Pengebom di London