Kapal Zahro Terbakar, Polisi Ancam Jemput Paksa Pemilik

"kalau pemanggilan kedua tidak datang kita jemput paksa,"

Kamis, 05 Jan 2017 13:11 WIB

KM Zahro Express. (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Kepolisian akan melakukan penjemputan paksa terhadap pemilik kapal Zahro Express yang terbakar pada pekan lalu di perairan Teluk Jakarta. Menurut Direktur Polisi Air Polda Metro Jaya Hero Hendrianto Bachtiar, kepolisian sudah melakukan pencarian dan menemukan pemilik kapal yang diketahui milik persorangan atas nama Yodi Mutiara Prima.

"Belum, masih dicari, sudah panggilan kedua. (Ada upaya untuk melakukan pencegahan dan pemanggilan paksa?) Belum, kalau pemanggilan kedua tidak datang kita jemput paksa," jelas Direktur Polisi Air Polda Metro Jaya Hero Hendrianto Bachtiar  kepada KBR, Kamis (5/1/2016).

Hero Hendrianto Bachtiar menambahkan, saat ini kepolisian sedang melakukan olah kejadian perkara kapal Zahro Express bersama tim forensi Polri dan KNKT.

"Sementara ini kegiatan kita melaksanakan olah barang bukti kapal bersama tim labfor," jelasnya.

Lebih lanjut Hero menjelaskan, terkait tidak ada pengecekan dari Kesyahbandaran Otoritas  Pelabuhan (KSOP) soal  kelebihan penumpang yang diangkut Zahro Express. Hero menolak berkomentar karena terkait materi penyidikan.

"Saya belum bisa komentar untuk itu karena masuk materi penyidikan," ungkapnya.

Olah TKP


Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri melakukan olah TKP KM Zahro Express pagi ini di Kali Asin, Jakarta Utara. Ketua Subkomite Investigasi Kecelakaan Pelayaran KNKT Aldrin mengatakan, olah TKP hari ini bertujuan untuk mencari penyebab terbakarnya kapal.

Kata dia, sebanyak 5 personil yang diterjunkan untuk memeriksa bangkai kapal.

"Olah TKP, seluruh isi bangkai kapal ini akan kita teliti kita lihat semua. Memang kalau kita rasa ada diperlukan barang bukti, yang akan kita ambil, kita ambil untuk diperiksa di tempat yang lebih detail atau juga untuk di laboratorium," kata Aldrin di Kali Asin, Jakarta Utara, Kamis (5/1/2017).

 Ketua Tim Investigasi KNKT, Aldrine Dalimunte mengatakan, pemeriksaan itu akan fokus pada ruang mesin kapal.  Timnya juga akan mengumpulkan barang bukti untuk melengkapi informasi investigasinya terkait penyebab terbakarnya kapal penumpang pada Minggu (1/1/2017) pekan lalu itu.

"Kami akan mencari barang bukti. Pokoknya seluruh yang ada di bangkai kapal itu, di ruang mesin, termasuk kami mencari barang bukti," imbuhnya.

Rabu (4/1/2017) kemarin, tim investigasi KNKT juga turun ke Pulau Harapan, Kepulauan Seribu untuk memeriksa tempat yang diduga sebagai pembuat Zahro Express. Namun Aldrine enggan memerinci hasil pemeriksaan itu. Ia hanya mengatakan, dalam kunjungannya itu tim belum menemukan kapal yang sejenis dengan Zahro Express.

"Kemarin kami tidak menemukan (kapal yang) sejenis makanya kami dalam satu atau dua hari ini akan merancang investigasi lanjutan lagi. Karena kemarin waktunya terbatas."

Kapal produksi 2013 ini mendapatkan perpanjangan izin kelaikan berlayar dari KSOP Muara Angke pada 22 Desember 2016 dan berlaku hingga 6 bulan ke depan. Namun Awal Januari lalu, kapal terbakar saat hendak menuju Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Insiden itu mengakibatkan 23 orang tewas dan puluhan lain luka-luka.

Penyelidikan awal KNKT menemukan, hanya ada satu mesin dan satu genset pada kapal. Padahal, kapal dilengkapi AC sehingga dengan begitu memungkinkan kebutuhan daya listrik yang lebih besar. Kini KNKT tengah mempelajari ruang mesin kapal dan, menghitung kesesuaian daya listrik dengan penggunaan kapal sehari-hari.

Mengingat usia kapal yang baru tiga tahun, KNKT menduga ada kesalahan pada perawatan mesin kapal dan pengawasan. Namun dugaan ini harus dipastikan dengan melihat catatan pelayaran dan keterangan dari kru, nakhoda serta pemilik Zahro Express.   

Kapasitas Penumpang

Anak buah kapal Zahro Express Misan memastikan tidak ada pengecekan jumlah kapasitas penumpang dari Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) pada saat berangkat. Kata Misan, kapal Zahro Express mendapatkan limpahan penumpang dari kapal lain sehingga jumlah penumpang mencapai sekitar 230 orang.

"60an lebih, tumpahannya bareng. 67 itu yang sedang dikembangin. (Kalau ditambah dengan Zahro Express sendiri itu kira-kira berapa?) Itu bisa 230 penumpang bisa," jelas Anak Buah Kapal KM Zahro Express Misan kepada KBR, Kamis (5/1/2016).

Misan menambahkan, jumlah pelampung mencukupi dengan jumlah penumpang. Namun kata dia, penumpang tidak mau menceburkan diri ke laut karena takut.

"Pelampung banyak, sampai terinjak-injak. Salahnya itu yang pakai pelampung itu tidak mau nyebur, mau bareng-bareng pada numpuk di depan. Disuruh nyebur susah, padahal sudah pakai safety. Makanya saya nyebur terakhir itu lihat keluarga bawa bayi, saya ceburin semua, anak satunya tenggelam. Saya rebut pelampungnya, saya selamatkan menuju ke orang tuanya," jelasnya.


Editor: Rony Sitanggang

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Menristek Minta Dosen Mundur Karen HTI, Pengamat: Itu Ngawur

  • Jokowi : Pengadaan Alutsista Harus Lewat G to G
  • Indonesia Jadi Tuan Rumah Konferensi Anti Terorisme
  • Terus Lakukan Intimidasi Penggusuran, Warga Dobrak Gerbang PT KA Bandung

Indonesia mengalami masalah ketimpangan (inequality) dan tengah berupaya memeranginya. Simak perbincangannya hanya di Ruang Publik KBR, Rabu 26 Juli 2017 pukul 09.00-10.00 WIB.