Presiden Joko Widodo bertemu Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj dalam pertemuan di Kantor PBNU Jakarta, Senin (7/11/2016). Saat itu Presiden Jokowi meminta NU membantu mencegah penyebaran paham radikalisme di Indonesia. (Foto: ANTARA)


KBR, Jakarta - Presiden Joko Widodo hari ini bertemu Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj di Istana Merdeka.

Dalam acara yang diselingi makan siang itu, mereka membahas tentang menguatnya paham Islam radikal dan intoleran. Ini merupakan pertemuan kedua setelah Presiden Jokowi menyambangi Kiai Said Aqil dan pengurus NU di kantor pusat PBNU, pada 7 November lalu.

Said Aqil mengatakan, NU mendukung penguatan kembali Islam moderat untuk mengantisipasi munculnya paham-paham intoleran.

"Makan siang, baru kali inilah saya makan siang di Istana, setelah Gus Dur. Yang kedua, indikasi menguatnya Islam radikal menjadi agenda kita bersama. Dunia melihat umat Islam Indonesia itu moderat, toleran. Tapi akhir-akhir belakangan ini agak mulai mengendor, atau gejala intoleransi mulai menguat," kata Said Aqil di Istana, Rabu (11/1/2017).

Baca juga:


Kiai yang akrab dipanggil Kang Said itu mengaku khawatir dengan potensi masuknya paham radikal seperti ISIS di Indonesia. Paham radikal juga dinilai mengancam NKRI.

"ISIS di Timur Tengah itu isu terdesak. (Wilayah) yang paling terbuka dan paling mudah, ya Indonesia," kata Said Aqil.

Ia mengatakan guna menekan pengaruh paham Islam radikal dan intoleran, NU akan menggalakkan peran kyai di masyarakat. Said Aqil mengatakan para kiai NU harus memberikan bimbingan, salah satunya dengan memberikan ceramah yang mengajarkan toleransi dan persatuan.

Apabila ada ulama yang menyampaikan pesan intoleran, Said Aqil memastikan yang bersangkutan bukan dari NU.

"Kyai NU itu diminta atau tidak, ceramahnya itu yang disampaikan adalah akhlakul karimah yang rukun, yang akur, jangan cerai suami istri, selalu begitu. Saya jamin," ujar dia.

Baca juga:


Pada awal 2016, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan kalangan anak muda Indonesia makin mengalami radikalisasi secara ideologis dan makin tidak toleran. Sementara perguruan tinggi juga makin banyak dikuasai kelompok garis keras.

Seorang peneliti LIPI Anas Saidi mengatakan paham radikalisme di kalangan anak muda dan kampus terjadi karena proses Islamisasi mereka berlangsung tertutup, dan cenderung tidak terbuka pada pandangan Islam lain, apalagi terhadap agama lain.

Penelitian yang dilakukan LIPI pada 2011 di lima universitas menunjukkan peningkatan pemahaman konservatif atau fundamentalisme keagamaan khususnya di kalangan mahasiswa di kampus-kampus umum. Mahasiswa yang disurvei diantaranya UGM, UI, IPB, Unair dan Undip.

Kecenderungan itu, kata Anas Saidi tidak berubah hingga kini. Radikalisme di kalangan pelajar dan mahasiswa marak terjadi pascareformasi, melalui kegiatan Jamaah Tarbiyah (Ikhwanul Muslim), termasuk Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan aliran salafi.

Sementara itu, survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin Prof Dr Bambang Pranowo di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50 persen pelajar setuju tindakan radikal.

Data itu menyebutkan 25 persen siswa dan 21 persen guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8 persen siswa dan 76,2 persen guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia.

Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3 persen siswa dan 14,2 persen membenarkan serangan bom.

Sementara itu, survei The Pew Research Center pada 2015 lalu mengungkapkan di Indonesia, sekitar empat persen atau sekitar 10 juta orang warga Indonesia mendukung kelompok teroris ISIS---dan sebagian besar mereka merupakan anak-anak muda.

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!