LIVE STREAMING

Mereka Butuh Sarapan Untuk Belajar

Minggu, 22/12/2013 13:44 WIB

Karena sarapan adalah makanan terpenting dalam sehari. 


Kamboja adalah salah satu negara di Asia dengan angka malnutrisi yang tinggi. Bahkan Kamboja termasuk 36 negara dunia yang punya beban paling besar akibat anak-anak kurang gizi. Ini bertolak belakang dengan pertumbuhan ekonomi negara ini yaitu sekitar 7 persen sejak 2010. 


Salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya akses warga ke makanan yang sehat dan bergizi. 80 persen warga Kamboja masih tinggal di pedesaan dan seperempat di antara mereka masuk kategori miskin. Dari total populasi pun, sekitar 60 persen hanya punya sepetak tanah kurang dari 1 hektar untuk mencukupi hidup sehari-hari. Sebagian lagi kerja dengan menggarap sawah orang lain. 


Miskin = tak sarapan 


Karena itu juga, masih banyak anak-anak usia sekolah di Kamboja yang tak bersekolah lantaran orangtuanya tak mampu. Angka tidak naik kelas atau putus sekolah pun tinggi, terutama di daerah pedesaan. 


Sejak 1999, World Food Program di Kamboja telah memulai program School Meal Program alias Program Sarapan di Sekolah di ratusan sekolah di 12 provinsi di Kamboja (dari total 24 provinsi). Tujuan utama program ini adalah memberi sarapan kepada murid-murid sekolah. Program ini dimulai lantaran banyak anak Kamboja yang ke sekolah tanpa sarapan terlebih dahulu di rumah – besar kemungkinan karena orangtua mereka miskin. Sekitar 90 persen warga Kamboja di pedesaan hidup dari bertani, dan sebagian besar menggarap sawah orang lain. 


Tanpa sarapan, banyak anak-anak sekolah yang tak mampu mengikuti pelajaran atau bahkan pingsan di tengah kelas. Karena itulah sarapan dianggap sebagai langkah jitu untuk ‘memancing’ anak-anak untuk masuk sekolah.


Selengkapnya baca 

Anak-anak Kamboja Itu Bersekolah Tanpa Sarapan


Foto-foto: Citra Dyah Prastuti/KBR68H

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!