LIVE STREAMING

Plantungan, Kamp Tapol Perempuan yang Dicap PKI

Kamis, 14/11/2013 14:16 WIB

KBR68H- Nama Plantungan memang tak setenar Pulau Buru yang menjadi tempat pembuangan para tahanan politik yang diberi cap PKI. Namun Plantungan yang terletak di Sukorejo, Kendal, Jawa Tengah menjadi saksi dari kisah tragis para perempuan Indonesia yang dikurung di bekas Rumah Sakit Lepra tersebut.

Di sinilah sekitar 500an perempuan yang dilabeli PKI ditahan selama bertahun-tahun. Bersama Bekas tapol, Mujiarti, saya menyusuri sisa-sisa kamp Plantungan sambil mendengarkan kisah yang dituturkan eyang yang dulu aktif di Pemuda Rakyat ini. Organisasai yang mirip-mirip dengan Karang Taruna yang eksis di jaman Orde Baru.

Plantungan dikelilingi dataran tinggi dengan udara yang dingin.  Butuh waktu sekitar 30 menit dari Sukorejo, Kendal untuk menuju desa yang terletak di kaki Gunung Prau itu. Jembatan gantung sepanjang 25 meter menjadi peninggalan yang masih utuh.

Plantungan adalah nama desa yang terletak di perbatasan Kabupaten Kendal dan  Batang,  Jawa Tengah. Pada jaman penjajahan Belanda, Plantungan menjadi tempat penampungan penderita lepra. Selama hampir 100 tahun sejak dibangun pada 1870, para penderita lepra diisolasi di desa ini. Setelah ditutup pada 1960  tempat itu disulap menjadi penjara  anak-anak.

Sepuluh tahun kemudian,  Plantungan menjadi tempat pembuangan 500an perempuan yang divonis terlibat atau dianggap dekat dengan Partai Komunis Indonesia.

Mujiati adalah salah satu diantara 500an perempuan Indonesia yang harus menghabiskan masa mudanya di kamp Plantungan.  

Seperti Pulau Buru yang menjadi tempat pembuangan tapol laki-laki, Plantungan juga disulap menjadi kamp pembuangan khusus untuk tapol perempuan, yang sebelumnya tersebar di berbagai penjara. Mereka tidak diadili, tak ada proses pembelaan. Pada 1970 gelombang tapol perempuan berdatangan. Selama delapan tahun, Eyang Mujiati kebebasannya terampas.

Di Plantungan, tiap tapol tidak dapat melakukan kegiatan menurut kehendaknya, tetapi sudah terikat pada pola yang wajib dilakon. Kehidupan di penjara dengan berbagai keharusan yang sudah ditentukan. Mata pengawas pun dimana-mana, bahkan menyusup ke dalam blok. Mulai dari makan hingga tidur semua sudah diatur. Bekicot, ular, kadal adalah sumber protein yang menjadi menu makanan, di antara jatah rantang yang lauknya tak lepas dari tempe dan ikan asin.

Orde Baru suskes menciptakan stigma bagi perempuan yang terlibat atau diduga simpatisan PKI. Para aktivis Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) digambarkan turut terlibat dalam pembunuhan para jenderal di Lubang Buaya dengan melakukan tari-tarian saat pembantaian dilakukan. Mereka bahkan dilukiskan turut menyilet para jenderal. Namun stigma yang keji itu pupus ketika para tapol justru menjadi penyelamat warga sekitar. Warga setempat mengandalkan para dokter dan Bidan yang juga tapol perempuan.

Di akhir napak tilas Eyang Mujiati menyatakan inilah cerita dari pelaku sejarah. Inilah cerita dari sisi lain, setelah puluhan tahun kita dicekoki teror yang diciptakan Orde Baru. Dan sungguh keberuntungan masih bisa mendengar kisah yang dituturkan oleh Eyang Mujiati dan tapol perempuan lainnya. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!