LIVE STREAMING

Lore Lindu, Hutan Alam dan Batu Kubur

Selasa, 27/10/2015 18:40 WIB

Taman Nasional Lore Lindu, seluas hampir 218 ribu hektar, menyimpan berbagai tumbuhan unik, juga batu-batu megalith.  

Waktu selama 5 hari - 4 malam, tak cukup untuk menjelajahi seluruh kekayaan Lore Lindu.  Perjalanan ini memilih rute : dari Palu melipir ke Tenggara, lewat hutan Kamarora dan bermalam di Telaga Tambing. Lalu, ke Lembah Behoa dan menginap semalam. Trekking dari Lembah Behoa ke Bada, melintas Gunung Powolanga menginap di Pondok Abe, lalu melewati teriknya Padang Pointoa.  Sebelum tiba dan menginap di Lembah Bada.

Tarsius adalah contoh satwa endemik Lore Lindu.  Primata mungil itu, salah satunya apes tertangkap petani yang sedang membersihkan pohon salak di ladang. Rupanya tarsius itu bersembunyi dari ular, predatornya yang utama, dan tak sadar petani akan menemukannya.  Malam hari, petugas TN Lore Lindu melepas tarsius ini kembali ke habitatnya. Ia melompat hampir tiga meter, sebelum hilang di kegelapan hutan Tamarora.

Malam pertama, kami berkemah di Telaga Tambing. Tempat menyepi yang mulai digemari pecinta alam Sulawesi Tengah.  Terletak di ketinggian 1.700 mdpl, dan dikelilingi hutan alam, Telaga Tambing cukup sejuk untuk berakhir pekan.  Bagi penggemar pengamatan burung, Telaga Tambing tempat yang ideal.  Sebanyak 56 jenis burung telah didokumentasikan di tempat ini. Satu diantaranya adalah kancilan buah (Hylocitrea bonensis), yang termasuk burung langka.

Dan Lembah Behoa adalah dunia lain.  Pemukiman tua yang kini diakui menjadi bagian enclave TN Lore Lindu itu, menyimpan banyak batu peninggalan nenek moyang orang Sulawesi.  Kalamba, misalnya. Dipercaya dulu sebagai tempat menyimpan jenasah.  Batu-batu besar itu disiapkan tidak hanya untuk orang yang meninggal. Tetapi juga menampung bekal kebutuhannya  di alam lain.  Kalamba di situs Pokekea, diperkirakan berasal dari Tahun 830, semasa ketika orang Jawa menyelesaikan Candi Borobudur. Namun ada juga studi arkeologi yang memperkirakan batu-batu itu jauh lebih tua, dan dibuat pada masa 3.000 sebelum Masehi.

Tandingan situs-situs itu, dapat ditemukan di Lembah Bada.  Behoa-Bada. Dua permukiman tua, yang terentang perjalanan dua siang dan satu malam. Jalur yang tak bisa lain, harus ditempuh dengan berjalan kaki.  Melintasi trek ini, selain asyik menikmati hutan yang mengagumkan  -- dengan banyak pohon leda, damar, palili dan rotan --, juga harus bersiap melintasi banyak savana yang teriknya luar biasa.  Panas yang membelah ubun-ubun.

Air.  Seteguk air.  Kadang hanya itu yang kita perlukan untuk hidup dan melanjutkan perjalanan.


Foto-foto : Danang K. Wardoyo 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!