Musim Panas, Saatnya Petani Garam Waingapu Panen Rejeki

Musim panas di Kota Waingapu, Sumba Timur dan sekitarnya bagi sebagian orang tidak menyenangkan. Namum ada sebagian orang-orang yang bersyukur. Semakin terik panas matahari, makin baik bagi

Rabu, 30 Okt 2013 14:22 WIB

KBR68H, Waingapu – Musim panas di Kota Waingapu, Sumba Timur dan sekitarnya bagi sebagian orang tidak menyenangkan. Namum ada sebagian orang-orang yang bersyukur. Semakin terik panas matahari, makin baik bagi ‘kantong’ mereka, salah satunya para petani garam.

Petani garam mungkin kurang familiar bagi warga Waingapu, karena petani identik dengan tanaman padi, jagung dan tanaman pangan lainnya. Petani garam adalah sebutan untuk para penghasil  garam yang  melakukan aktivitasnya di sekitar pesisir pantai pada musim panas sekitar bulan Juni – November. Pada umumnya, petani garam di Sumba Timur melakukan aktivitas memasak garam dengan cara tradisional yang merupakan warisan turun-temurun.

Jika  musim panas tiba dan tanah garam dis ekitar pantai sudah mengering, petani garam akan beramai-ramai mengumpulkan tanah garam yang kemudian dicampur dengan air laut untuk mendapatkan larutan garam yang biasa disebut air tua.

Air tua ini kemudian dimasak sampai menjadi kristal-kristal garam. Semakin banyak kadar garam yang terkandung  dalam tanah garam, makin banyak kristal garam yang dihasilkan saat dimasak. Garam-garam ini kemudian diberi yodium (KIO3) dan dijual ke konsumen.

Profesi ini cukup menjanjikan karena tak hanya dinikmati warga, garam juga dikonsumsi ternak. Kebutuhan manusia akan garam beryodium setiap tahunnya adalah 3 kg per orang.

Berdasarkan data sebaran penduduk Nusa Tenggara Timur tahun 2012, jumlah penduduk kabupaten Sumba Timur adalah 263.142 jiwa. Ini berarti bahwa kebutuhan konsumsi garam oleh penduduk per tahun adalah 789.426 kg, belum termasuk kebutuhan ternak dan industri. Hasil pendataan jumlah produksi pada sentra garam oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan kabupaten Sumba Timur tahun 2012 adalah 400.505 kg yang berarti pemenuhan kebutuhan konsumsi garam beryodium baru mencapai  50,7 %.

Musim panas adalah berkah bagi petani garam  dan berkah ini dilanjutkan kepada para konsumen untuk turut berpartisipasi  mencegah resiko GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium) dan membantu mencerdaskan sumber daya manusia di kabupaten Sumba Timur. (Heinrich Dengi)

Editor: Suryawijayanti

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob

  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

pernah melihat atau bahkan mengalami sendiri perlakuan diskriminatif / ujaran kebencian di ruang pendidikan, tempat kerja, lembaga pemerintahan, dan ruang publik lainnya tapi tidak tahu lapor kemana?