LIVE STREAMING

Ketika Ahmadiyah Ciamis Buka Segel Masjid

Jumat, 04/07/2014 13:35 WIB

KBR, Jakarta – Masjid Nur Khilafat terletak di sebelah selatan alun-alun Kota Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Masjid yang berdiri sejak tahun 1960-an ini terbuka bagi semua umat Islam, tidak hanya untuk Jemaah Ahmadiyah. 


Masjid ini terletak di Jalan Ciptomangunkusumo, di ruas jalan besar Tasik-Ciamis-Banjar. Karena letaknya yang strategis, masjid ini sering dipakai untuk istirahat juga shalat bagi warga yang kebetulan melintas. 


Ada sekitar 40 orang anggota Ahmadiyah yang aktif di masjid ini. Mereka tersebar di seputar Ciamis. Yang tinggal di sekitar masjid hanya tiga orang, salah satunya mubaligh masjid, Padhal Ahmad. Masjid Nur Khilafat ini adalah masjid keempat yang dikelola oleh Jemaat Ahmadiyah di wilayah CIamis. 


Di sebelah masjid ini ada warung. Alis, pemilik warung, mengaku hubungannya dengan Jemaah Ahmadiyah baik-baik saja. 


Namun pada Senin (23/6) lalu kelompok intoleran mendatangi kantor Bupati Ciamis Iing Syam Arifin, menuntut supaya masjid disegel. Di hadapan puluhan anggota Front Pembela Islam, sang Bupati berkata,”Saya 100 persen menolak Ahmadiyah. Dan secara jabatan, ada aturan yang melarang itu.” Dan masjid akhirnya benar-benar disegel pada Kamis (26/6) lalu, hanya beberapa hari sebelum Bulan Ramadhan dimulai. 


Jemaah Ahmadiyah sempat berupaya bertemu sang Bupati untuk meminta segel dibuka, tapi tak berhasil. Surat yang mereka kirim pun tak mendapatkan balasan. 


Segel masjid akhirnya dibuka oleh Jemaah Ahmadiyah Ciamis sendiri hari ini, Jumat (4/7), didampingi sejumlah aktivis dari LSM HAM. 


Baca juga: 


Jemaah Ahmadiyah Ciamis: Hidup Bhinneka Tunggal Ika! 


Masjid Disegel, Ahmadiyah Ciamis Mengadu ke Komnas HAM 


Kronologi FPI Mau Tutup Masjid Ahmadiyah Ciamis 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!