LIVE STREAMING

Sensasi Kultural Uji Rasa Kopi

Rabu, 22/05/2013 15:44 WIB

Anda seorang peminum kopi? Pagi hari, sembari baca koran atau mendengarkan radio, Anda mungkin merasa ada yang kurang kalau secangkir kopi tak terhidang di dekat Anda. Atau sore hari, selepas kerja, menghilangkan penat sambil ngobrol bersama teman, sungguh menyenangkan kalau disambi dengan acara nyeruput kopi.

Kopi memang begitu akrab dalam keseharian banyak orang. Mungkin karena kebiasaan yang begitu masif ini, kopi lantas menjadi komoditi yang harganya bisa begitu mahal. Kedai-kedai kopi dibangun, waralaba internasional masuk, dan minum kopi dengan berbagai nama yang ndakik-ndakik menjadi gaya hidup baru. Mereka yang biasanya hanya mengenal kopi tubruk hitam di warung kopi pojok gang, pasti akan kebingungan kalau harus disuruh memilih beragam menu di kedai kopi kelas menengah atas ini. Kecanggihan cara mengemas, menyuguhkan dan berbagai gimmick yang menyertai kedai kopi impor inilah yang membuat acara minum kopi tak sekadar minum kopi. Semua berkat coffee grader.

Citra kopi, terutama aroma dan cita rasanya, apa boleh buat, memang banyak dibentuk oleh coffee grader. Kalau di dunia sastra ada kritikus sastra, coffee grader ini adalah kritikusnya dunia kopi. Melalui penilaian coffee grader ini, kopi dipilah-pilah berdasar cita rasa dan aroma. Tentu dengan banyak parameter dan ritual yang rumit. Jangan heran, bahkan untuk menjadi seorang coffee grader yang mumpuni, orang perlu sekolah khusus. Coffee grader, sebagaimana pencecap anggur bermutu, memang butuh pengetahuan khusus. Juga pantangan khusus. Seorang coffee grader yang baik pasti bukan perokok. Ia juga tak minum minuman beralkohol. Alasannya sederhana, rokok dan minuman beralkohol bisa mempengaruhi kepekaan indera penciuman dan rasa. Padahal dua faktor ini adalah modal utama bagi seorang coffee grader profesional.

Tapi tak usah minder. Orang awam pun bisa menjadi "coffee grader" dadakan. Itulah yang terjadi pada suatu sore di Cafe Sarongge. Kru redaksi KBR68H, dengan panduan Prasetyohadi -- akrab dipanggil Pras, pengelola situs Koffie Goenoeng Fairtrade, mencoba menjadi penguji rasa kopi asli.

Kopi asli? Betul. Tepatnya kopi arabika. Menikmati kopi asli memang kudu tahu dari awal, terutama apakah kopi itu sudah dicampur bahan lain atau belum. Dalam uji rasa kopi ini, Pras sudah menyiapkan enam kantong biji kopi yang sudah disangrai selama 8 jam. Biji kopi yang sudah disangrai ini dibungkus dalam kantong alumunium foil yang kedap udara. Enam jenis biji kopi dari berbagai daerah berbeda (mulai kopi Bondowoso, Manggarai hingga kopi Raja Batak dari Sumatera) siap untuk diuji, mana yang paling enak, paling harum, dan seterusnya.

Ujian pertama adalah mencium aroma biji kopi sebelum dicampur dengan air panas. Biji kopi digiling dulu, lantas dituang ke 3 cangkir. Indera penciuman bermain di sini. Satu-satu peserta mencoba menghirup aroma dari kopi kering ini. Rentang penilaian mulai dari 6 hingga 10. Sesudah itu barulah air panas dituangkan. Peserta diminta mencecap masing-masing kopi. Satu jenis kopi berada dalam 3 cangkir berbeda. Sehingga total ada 18 cangkir yang harus dicecap satu per satu. Pada masing-masing jenis kopi ini, peserta diminta mengisi skor untuk menilai aroma, keasaman, kekentalan, citarasa (flavor), rasa akhir (aftertaste), kandungan karamel (sweetness), kesan umum rasa (clean up), dan terakhir keseragaman. 

Rumit? Mungkin iya. Tapi menjadi peserta uji rasa kopi juga memberikan pengalaman berbeda, yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Dari uji rasa menghirup aroma dan mencecap kopi murni (tanpa campuran apa pun) ini, kita mungkin tersadar, acara minum kopi memang bisa menjadi ritual menarik. Sensasi kultural."You are what you drink" kata Pras.


Foto-foto: Heru Hendratmoko/KBR68H

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!