LIVE STREAMING

Kita Menamainya Air

Rabu, 22/05/2013 15:48 WIB

Tahukah Anda, bumi tempat kita hidup, bernafas sesungguhnya terdiri dari 97,5% air, dan hanya 2,5 % dari di antaranya berupa air tawar? Itu pun sebagian besar tersimpan sebagai glasier dan bongkahan es di kutub utara dan selatan.

Lebih menakjubkan lagi, karena ternyata air yang berada di permukaan dan mengalir melalui sungai dan danau air tawar serta di atmosfir yang turun sebagai hujan hanya sebesar 0,4% .

0.4% air inilah yang dikonsumsi oleh 7 miliar penduduk bumi?

Betapa sedikitnya!

Bagaimana dengan Indonesia? Negeri kita diperkirakan memiliki total volume air sebesar 308 juta meter kubik
atau 6% persediaan air dunia. Atau sekitar 21% dari persediaan air di Asia Pasifik.

Forum Air Dunia II (World Water Forum) di Den Haag, Belanda pada Maret 2000 menyebut Indonesia termasuk salah satu negara yang akan mengalami krisis air pada 2025. Penyebabnya macam-macam. Di antaranya pencemaran air akibat limbah industri dan domestik yang terus meningkat di lingkungan pemukiman terutama perkotaan.

Jangan heran kalau 60% sungai di Indonesia kini sudah tercemar. Cemaran ini terentang mulai dari bahan organik, kimia, hingga bakteri coliform dan fecal coli penyebab diare. 13 aliran sungai di Jakarta pun tak luput dari cemaran bakteri Escherichia coli. Bakteri yang sama juga mencemari 70% tanah di Jakarta. Bergidik?

The Huffington Post pada September 2010 memasukkan Sungai Citarum dalam daftar 9 wilayah paling terpolusi di seluruh dunia. Sekitar 1,400 industri di Jawa Barat membuang limbah cairnya ke dalam sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat. Sementara 90% air baku untuk kebutuhan air Jakarta berasal dari Citarum.
 
Krisis air juga disebabkan berkurangnya daerah tangkapan air akibat penggundulan hutan untuk industri dan pemukiman. Greenpeace mencatat, angka deforestasi di Indonesia sudah mencapai 2,8 juta hektar pertahun atau setara dengan 42 kali luas kota Jakarta!
 
Penyebab lain, tidak adanya manajemen pengelolaan tangkapan air hujan.  Curah hujan yang tinggi hingga 22mm/hari mengalir begitu saja dari hulu ke hilir karena daerah resapan berkurang dan drainase kota yang buruk. Banjir adalah akibatnya. Itu yang dialami warga Jakarta 17 Januari lalu.

Selanjutnya adalah perubahan iklim. Indonesia mengenal 2 musim (kemarau dan hujan) yang masing-masing berlangsung selama 6 bulan. Tapi perubahan iklim mengakibatkan perubahan curah hujan, cuaca ekstrem dan Indonesia mengalami banjir di saat hujan dan kekeringan kala kemarau. Kacau.

Kita menyebutnya sumber kehidupan. Ia menghidupi, ia memberi kesegaran, ia melenyapkan haus. Setiap tetesnya memberi kesempatan kepada kita untuk memperpanjang nafas. Ia bisa bernama laut. Bisa bertajuk sungai. Atau danau. Tapi pada akhirnya kita lebih mengenalnya sebagai air.


Tapi dari gambaran di atas, yang terjadi selama ini adalah penyia-nyiaan. Kita boros dan tak hirau dengan keberlangsungannya. Bahkan mencemarinya dengan limbah dan sampah. Maka kalau ia berubah menjadi petaka, sesungguhnya itu akibat kita terlampau sedikit menghargainya.

Air menjadi berkah. Air berubah jadi bencana. Padahal semua, atau setidaknya sebagian besar, masih dalam kendali manusia. Maka rawatlah, rawatlah dia. Karena kalau ini yang terjadi, yang kita nikmati selanjutnya adalah hidup itu sendiri. Dan yang akan kita syukuri kemudian adalah keindahan. Bukan kehancuran.


Foto-foto: Heru Hendratmoko/KBR68H

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!